Rabu, 02 Desember 2009

GURINDAM DUABELAS Pasal Tujuh

Apabila banyak berkata kata
Disitulah jalan masuk dusta

Apabila banyak berlebih-lebihan suka
Itulah tanda hampirnya duka

Apabila kita kurang siasat
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat.

Apabila anak tidak dilatih
jika besar bapanya letih

Apabila banyak mencela orang
Itulah tanda dirinya kurang

Apabila orang yang banyak tidur
Sia-sia sahajalah umur

Apabila mendengar akan khabar
Menerimanya itu hendaklah sabar

Apabila mendengar akan aduan
Membicarakannya itu hendaklah cemburuan

Apabila perkataan yang lemah lembut
Lekaslah segala orang yang mengikut

Apabila perkataan yang amat kasar
Lekaslah orang sekalian gusar

Apabila pekerjaan yang amat benar
Tidak boleh orang berbuat onar




Gubahan Raja Ali Haji (Melayu)
Berdasarkan kiriman Ching Pranata

Selasa, 01 Desember 2009

PENJARA KEHIDUPAN (bagian 4 ~ habis)

KEBAIKAN ADALAH PENJARA
Penjara berikutnya sangatlah penting dan merupakan penyebab banyak masalah. Penjara ini adalah apa yang disebut 'kebaikan.' Semua orang meyukai 'kebaikan' dan mereka mengajar yang lain untuk melakukannya. Kemudian mereka memuja apa yang mereka sebut 'baik.' Tetapi begitu ada upadana tercampur dengan apa yang mereka sebut baik, yang baik itu menjadi penjara. Anda harus memiliki kebaikan tanpa memiliki upadana, agar kebaikan tidak akan menjadi penjara.

Bila ada upadana maka kebaikan akan berubah menjadi penjara.
Seperti yang kita katakan, mereka gila kebaikan, mabuk pada kebaikan, tersesat dalam kebaikan, sampai kebaikan berubah menjadi permasalahan. Jadi bersikaplah sangat hati-hati agar tidak membuat kebaikan menjadi penjara. Tetapi sekarang ini tidak ada yang dapat kita lakukan untuk menolong karena semua orang terperangkap dalam penjara kebaikan-secara membuta, tanpa sadar, terperangkap dalam penjara kebaikan.

Bila anda seorang Kristen, kami memohon anda untuk berpikir dan merenungkan ajaran dalam Kitab Kejadian, ketika Tuhan melarang Adam dan Hawa memakan buah Pohon Pengetahuan tentan Kebaikan dan Kejahatan. Jangan memakannya atau mereka akan mengetahui cara membedakan kebaikan dan kejahatan. Kemudian buah itu akan melekatkan upadana pada yang baik dan jahat. Sehingga kebaikan dan kejahatan menjadi penjara.

Ajaran ini sangat mendalam dan baik, paling cerdas dan bijaksana, namun tampaknya tidak ada orang yang memahaminya. Orang-orang tidak tertarik dengan ajaran ini dan tidak bisa menjadi orang Kristen yang benar. Bila mereka orang Kristen yang benar, mereka tidak akan melekatkan upadana dengan kebaikan dan kejahatan. Kita tidak boleh membuat kejahatan maupun kebaikan menjadi penjara. Artinya, jangan terperangkap dalam penjara kebaikan.

Kita memakan buah itu dan menjadi tahu yang baik dan jahat, sehingga terperangkap dalam semua kebaikan dan kejahatan. Sejak itu kita memiliki permasalahan terus-menerus. Demikianlah ceritanya sampai itu disebut 'dosa asal,' atau terkadang 'dosa abadi.' Buah ini menjadi penjara asal, penjara abadi. Waspadalah: hati-hati jangan terperangkap dalam penjara asal, penjara abadi ini. Jangan pernah biarkan diri anda terperangkap dalam penjara ini.

Dengan terpenjara dalam kebaikan, atau yang baik, begitu seseorang terperangkap hal ini berlanjut sampai ke kebaikan tertinggi. Maka kebaikan tertinggi berubah menjadi penjara tertinggi. Bila berlanjut demikian, maka Tuhan akan menjadi penjara tertinggi. Semoga anda memahami dan mengingat bahwa upadana membangun penjara dengan cara demikian.

PANDANGAN ADALAH PENJARA
Penjara berikutnya adalah ditthi kita. Kata Pali ditthi sangat sulit diterjemahkan. Pengetahuan, pikiran, ide, teori, pendapat, kepercayaan, pemahaman-semuanya adalah ditthi.
Ditthi berarti semua pikiran, pendapat, teori dan kepercayaan pribadi. Bukan hanya pendapat tertentu dan kepercayaan kecil, melainkan semuanya, semua pandangan. Semuanya yang kita gunakan untuk memandang pengalaman adalah ditthi. Kita terperangkap dalam penjara pandangan kita sendiri. Kita tidak mematuhi siapapun kecuali ditthi kita. Ini adalah penjara yang paling menakutkan, karena kita akan berlayar dengan gegabah dan terburu-buru menurut pandangan kita.
Kita memalingkan muka dan kehilangan semua hal yang seharusnya bermanfaat bagi kita, karena pikiran kita tertutup terhadap segalanya kecuali ide, kepercayaan dan pandangan kita sendiri.
Dengan demikian, pandangan-pandangan ini menjadi penjara yang mengerikan yang menahan dan mengunci kita hanya terhadap satu cara pemahaman. Waspadalah terhadap penjara ditthi kita sendiri.

KEMURNIAN ADALAH PENJARA TERTINGGI
Berikutnya kita sampai pada penjara yang sangat aneh dan menakjubkan; anda menyebutnya 'penjara tertinggi.' Penjara tertinggi adalah apa yang mereka sebut 'tanpa-dosa' atau 'murni.' Sangat sulit untuk mengerti apa yang mereka maksud dengan kata-kata ini. Kita mendengar semua jenis percakapan mengenai tanpa-dosa dan kemurnian, tetapi mereka sendiri tampaknya tidak pernah mengerti apa yang mereka maksud. Mereka melekat pada kemurnian ini, menganggapnya sebagai ini dan itu, memujanya, menggunakannya untuk pertunjukan dan persaingan, untuk memamerkan 'betapa murninya saya.' Tetapi bila ada upadana, semuanya hanyalah kemurnian melalui upadana, bukan kemurnian yang asli. Ada banyak bentuk prasangka kemurnian yang berasal dari kemelekatan, seperti: kebutuhan untuk mandi; membuat mantera; diminyaki, diperciki, atau direndam oleh entah siapa; atau banyak sekali ritual dan upacara yang dilakukan demi 'kemurnian, kemurnian.' Kemurnian ini adalah murni upadana, dan kemurnian melalui kemelekatan adalah penjara. Mohon jangan tersesat dan berakhir dalam penjara bernama 'kemurnian.'

Benar-benar menyedihkan melihat begitu banyak kemelekatan pada keakuan, dan kemudian kemelekatan yang juga sama banyaknya pada kemurnian. Lebih jauh lagi, bahkan beberapa kepercayaan mengajar sejenis kemurnian abadi yaitu suatu jiwa abadi yang hidup dalam keabadian, dan semacamnya. Semuanya berasal dari pemegangan dan kemelekatan pada kemurnian melalui upadana sampai seseorang terperangkap dalam penjara abadi. Hanya berakhir sebagai penjara abadi.


KEKOSONGAN BUKAN PENJARA
Ini adalah penjara terakhir. Kebebasan dari penjara kemurnian tertinggi, lepas dari penjara termurni, ke kekosongan bebas dari jiwa dan keakuan. Tidak memiliki keakuan apapun, bebas dari keakuan, kosong dari aku-perasaan apapun tentang aku, kosong dari ide dan pikiran tentang aku- adalah kemurnian sejati. Kemurnian apapun yang benar-benar abadi tidak dapat menjadi penjara dengan cara apapun, kecuali terjadi kesalahpahaman dan kemelekatan padanya sebagai suatu keakuan atau jiwa, yang kemudian dalam kasus ini menjadi penjara lagi. Lepaskan tanpa ragu, benar-benar bebas dari keakuan-inilah kemurnian sejati. Ini bukanlah penjara. Kekosongan adalah kemurnian yang bukan penjara.

Jadi penjara yang sejati, gabungan dari semua penjara yang telah kita bahas, adalah yang disebut 'atta' (dalam Pali), 'aku,' atau 'jiwa.' Diri sendiri adalah penjara. Diri ini adalah penjara. Semua jenis penjara masuk dalam dan sampai pada kata 'diri sendiri' atau 'diri saya.' Melekat pada keakuan sebagai keakuan, dan kemudian karena menjadi milik keakuan, melekat pada 'saya' dan 'milik saya,' inilah penjara sejati, jantung dan jiwa penjara. Semua penjara digabungkan dalam kata 'atta.' Dengan mengoyak kebodohan yang menciptakan atta, juga sekaligus mengoyak atta itu sendiri, maka semua penjara akan hilang. Bila anda berlatih anapanasati (perhatian penuh terhadap pernafasan) dengan benar sampai benar-benar sukses, kesuksesan yang benar, bukan khayalan, anda akan menghancurkan semua penjara dengan menyeluruh. Hancurkan atta, maka semua penjara akan hancur dan kita tidak akan pernah membangunnya lagi. Semoga anda semua mengalami kesuksesan dalam menghancurkan penjara, yaitu atta, keakuan.

Tujuan anapanasati adalah untuk melenyapkan semua sisa upadana menyangkut keakuan. Pelenyapan menyeluruh kemelekatan pada keakuan adalah pemadaman terakhir dan sempurna dari dukkha, yang kebetulan berarti kebebasan, keselamatan. Tujuan tertinggi setiap agama adalah keselamatan yang nilai dan manfaatnya melampaui kata-kata. Jadi cobalah. Anapanasati, bila dilatih dengan benar, membawa pada kebebasan dari atta. Saya telah berusaha semampu saya dan saya bersedia untuk melakukan apapun untuk menolong semua orang memahami anapanasati dan melatihnya dengan sukses, sehingga kita semua dapat lepas dari semua aspek penjara kemanusiaan. Mari kita akhiri ceramah pada hari ini sampai di sini.

Oleh : BUDDHADASA BHIKKHU
Alih bahasa : Upasaka Santanando Sanjaya

Sumber : What Buddha Taught

PENJARA KEHIDUPAN (bagian 3)

NALURI ADALAH PENJARA
Penjara berikutnya yang harus kita perhatikan adalah kita hidup di bawah pengaruh naluri. Semua makhluk hidup, manusia, hewan atau tumbuhan, memiliki naluri. Naluri terus memaksa kita untuk mengikuti kebutuhan dan keinginannya. Hal ini terutama berlaku untuk naluri birahi (seksual) atau reproduksi. Seberapa kuat naluri ini mengendalikan, menyulitkan, mengaktifkan, dan memperumit kita? Perasaan birahi (seksual) dan dorongan untuk berreproduksi menekan, memaksa dan mengganggu dengan begitu mendalam; memaksa kita melalui berbagai macam kesulitan. Tetapi kita tidak dapat berhenti. Terkadang kita lebih menyukainya demikian. Anak-anak kita tumbuh dan dewasa sampai pada tahap dimana naluri birahi (seksual) matang dan kemudian mereka terperangkap dalam penjara naluri birahi (seksual).

Bahkan naluri untuk pamer dapat mengendalikan hidup kita. Banyak orang yang berpikir bahwa ini bukanlah naluri, tetapi semua hewan memilikinya. Kebutuhan untuk memamerkan, menyombongkan, dan menunjukkan diri sendiri adalah naluri. Bahkan hewan memiliki kondisi ingin memamerkan kecantikan, kekuatan, kelincahan atau apapun. Bahkan naluri yang paling gila dan menggelikan ini adalah penjara. Kita ingin memamerkan dan menyombongkan diri. Bila naluri ini bukan penjara, maka naluri ini tidak akan memaksa dan menekan kita sedikit pun. Namun, naluri ini memaksa kita untuk membeli banyak baju-baju, perhiasan, dan sepatu-sepatu yang indah! Mengapa kita harus memiliki banyak baju dan sepatu yang indah? Mengapa kita memerlukannya? (Dan maafkan saya, karena kita harus menyinggung terutama wanita.) Ada naluri untuk pamer dan ini juga merupakan sejenis penjara. Karena orang tidak dapat menahannya, mereka dipaksa untuk mengikuti naluri ini, menghabiskan banyak uang untuk berbagai jenis barang. Naluri untuk pamer adalah yang paling lucu dan menggelikan. Namun sebenarnya naluri ini tetap merupakan penjara. Orang tidak pernah memiliki cukup uang karena penjara ini. Mohon pertimbangkan dan renungkan dengan seksama contoh-contoh naluri yang telah kita bahas. Semuanya adalah penjara.

Bila kita memikirkannya dan menghitung semua pengeluaran kita, kita akan menemukan bahwa beberapa orang menghabiskan lebih banyak uang untuk pakaian, perhiasan dan menjaga kecantikan mereka daripada uang untuk makan. Lebih jauh, mereka memaksa untuk menghias dan mempercantik rumahnya, yang menambah pengeluaran mereka. Keduanya menghabiskan lebih banyak uang daripada makanan yang diperlukan untuk hidup. Kita menggunakan lebih banyak uang untuk barang-barang yang tidak dibutuhkan dalam hidup daripada kita gunakan untuk kebutuhan hidup seperti makanan. Ini salah satu cara lagi untuk terperangkap dalam penjara naluri.


KEENAM INDERA ADALAH PENJARA
Berikutnya kita sampai pada penjara yang paling menyenangkan dan dekat dengan kita. Penjara ini adalah mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran: keenam ayatana, keenam media atau landasan indera. Keenamnya adalah penjara. Perhatikan dengan perlahan dan seksama. Dengarkan dengan seksama agar dapat memahami bagaimana mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran kita semuanya menjadi penjara.

Dalam bahasa Pali kita menyebut keenamnya ayatana. Akar dari kata ini memiliki arti harfiah “alat atau cara untuk berhubungan dengan dunia luar�—tempat, mekanisme, cara, atau apapun, untuk kontak atau komunikasi dengan dunia luar. Kita menyebutnya 'ayatana.' Bila Anda suka, Anda bisa menggunakan istilah Pali 'ayatana.' Kami tidak yakin bagaimana untuk menyebutnya dalam bahasa Inggris, mungkin 'landasan indera.' Keenam ayatana ini adalah penjara.

Kita memiliki upadana terhadap hidup, menyangkut diri sendiri, yang memiliki keenam indera untuk mengalami, berkomunikasi, merasakan atau menerima objek sensasi. Ketika ada upadana terhadap keenam ayatana, kita melayani ayatana, kita menjadi budaknya. Jadi kita melayani mata untuk menyenangkan mata. Kita melayani telinga untuk menyenangkan telinga. Kita melayani hidung untuk memuaskan hidung. Kita melayani lidah untuk memuaskan lidah. Kita melayani kulit dan keseluruhan indra tubuh untuk membuatnya nyaman. Kita melayani pikiran, indera mental, untuk menenangkan dan menyenangkannya. Artinya, semua perilaku kita hanya untuk menghibur ayatana. Semua yang kita lakukan hanyalah demi keenam ayatana. Kita menyerah padanya dan menjadi budaknya. Kemudian, ayatana ini memeras dan mengendalikan kita, sehingga kita tidak dapat menghindarinya. Kami menyebut ini 'terperangkap dalam penjara ayatana.'

Pikirkanlah apakah ada orang, termasuk yang di sini, yang tidak menghamba dalam melayani ayatana ini. Dan bukankah anda melayaninya dengan senang hati? Anda bekerja keras, dan jungkir balik berusaha untuk melayaninya, selalu mencari cara untuk membuat mata, telinga, hidung, lidah, tubuh dan pikiran nyaman dan senang, dengan cara yang terbaik. Jadi kita harus mengakui bahwa kita adalah budak. Mereka yang kurang bijaksana sudah pasti menjadi budak dari ayatana, selalu terperangkap dalam penjara ayatana. Melalui latihan yang benar dan berhasil dari perhatian penuh terhadap pernapasan, kita dapat lepas dari penjara. Bila kita berlatih anapanasati dengan tidak benar dan tidak sempurna, kita akan tetap terperangkap dalam penjara ayatana untuk waktu yang entah berapa lamanya.

TAHAYUL ADALAH PENJARA.
Untuk penjara berikutnya, kami ingin menyingung perasaan tertipu oleh apa yang disebut 'saiyasatr.'
saiya artinya 'tidur.' Satr (dari Sansekerta berarti sastra, pengetahuan, senjata) berarti 'ilmu pengetahuan' dan digunakan seperti akhiran 'logi.' Gabungannya berarti 'tidurlogi' atau 'ilmu pengetahuan mengantuk.'

Semua formalitas dan kepercayaan tahayul adalah saiyasatr. Semakin tebal seseorang memiliki kegelapan batin, semakin ia kurang memiliki pengetahuan benar, dan semakin terperangkap ia dalam penjara tahayul. Sekarang pendidikan dan ilmu pengetahuan (vidayasatr) sudah lebih maju, yang membawa kita pada pengertian yang lebih baik terhadap kebenaran alam dan terhadap semua hal lainnya.
Vidayasatr dari kata vidya, 'pengetahuan, ilmu pengetahuan,' dan sastra.

Namun, tetap ada banyak perangkap dalam penjara-penjara tahayul. Ini adalah masalah pribadi. Beberapa terperangkap amat kuat sedangkan yang lain tidak. Orang–orang terperangkap pada derajat dan cara yang berbeda tetapi kita dapat mengatakan bahwa tetap ada orang yang terperangkap dalam penjara saiyasatr, terperangkap oleh tahayul.

Walaupun pada umumnya tahayul sudah banyak yang lenyap karena pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan, namun masih ada sedikit saiyasatr yang tertinggal di vihara dan gereja. Kami mohon maaf karena berkata demikian, namun tempat dimana kita dapat menemukan tahayul paling banyak adalah di dalam gereja, vihara dan tempat-tempat ibadah lainnya. Walaupun tahayul sudah berkurang, namun tetap ada banyak yang tertinggal di tempat-tempat demikian. Dimana ada altar, disitu ada orang-orang yang membungkuk dan menyembah apa yang disebut benda suci dan keramat, di sanalah tempat 'ilmu orang yang tidur' berada. Tahayul, saiyasatr, ditujukan untuk orang yang sedang tertidur, yang tidak memahami dengan benar dan mereka yang bodoh. Kita diajari hal-hal ini ketika kita masih kecil, ketika kita belum memiliki akal dan kemampuan untuk merasionya. Anak-anak percaya apapun yang diberitahukan, sehingga 'orang dewasa' mengajarkan banyak tahayul pada mereka. Bila anda masih percaya bahwa tiga belas adalah angka sial, inilah saiyasatr. Anda masih tidur. Masih banyak contoh lain dari tahayul, tetapi lebih baik tidak usah kita sebutkan. Beberapa orang mungkin akan tersinggung. Hal-hal semacam ini adalah penjara. Mengapa kita tidak berusaha untuk melihat dengan seksama bahwa tahayul adalah penjara. Bahkan angka '13' pun menjadi penjara.

INSTITUSI KERAMAT ADALAH PENJARA
Kita akan melanjutkan dengan institusi atau lembaga yang suci dan keramat, atau terkenal dan ternama; atau yang kabarnya sangat elit dan bergengsi sehingga siapapun yang menjadi anggotanya menjadi bergengsi pula. Ada banyak tempat dan institusi demikian. Begitu seseorang mendaftar sebagai anggota asosiasi itu atau organisasi ini, institusi ini atau lembaga itu, mereka mulai mendapatkan pemikiran dan perasaan 'bergengsi' ini. Mereka mulai merasakan bahwa 'kita lebih baik dari mereka' atau ' kita adalah yang benar dan yang lain itu bodoh.' Mereka memegang dan melekat tanpa pertimbangan atau pemikiran kritis sedikit pun. Dengan cara demikian, institusi itu menjadi sebuah penjara. Oleh karena itu kami mohon Anda jangan berpikir bahwa Suan Mokkh adalah institusi yang suci atau penuh mukjizat, bila Anda berpikir demikian, Suan Mokkh akan menjadi penjara. Mohon jangan mengubah Suan Mokkh menjadi penjara Anda.
Suan Mokh adalah nama tempat tinggal Bhikkhu Buddhadasa

Anda harus berpikir bebas, memeriksa dengan seksama, mengevaluasi dengan kritis. Pahami dan percayai hanya apa yang benar-benar bermanfaat. Jangan terpenjara dalam institusi yang bergengsi atau terkenal.

GURU ADALAH PENJARA
Sekarang kita sampai pada penjara yang disebut 'ajahn' (guru, master), guru-guru terkenal yang namanya sering disebut-sebut. Di Myanmar ada istilah 'Sayadaw Ini,' di Sri Lanka ada 'Ajahn Itu,' di Tibet ada 'Lama Ini,' di Cina ada 'Master entah siapa.' Setiap tempat memiliki guru terkenalnya sendiri yang namanya melambung ke mana-mana. Baik nasional, regional, propinsi, atau lokal, setiap tempat memiliki Guru Besarnya. Kemudian orang-orang melekat pada gurunya sebagai satu-satunya guru yang benar. Guru mereka yang benar dan guru lain salah sama sekali. Mereka menolak untuk mendengar guru orang lain. Dan mereka tidak berpikir mengenainya, mereka tidak memeriksa ajaran Ajahn mereka sendiri. Mereka terperangkap dalam 'Penjara Guru.' Mereka mengubah guru menjadi penjara, dan mereka terperangkap dalamnya. Ini adalah kemelekatan yang benar-benar menggelikan. Baik guru besar atau guru kecil, semuanya upadana yang sama. Mereka terus membangun penjara dari guru mereka. Mohon jangan terperangkap bahkan dalam penjara ini.

BENDA SUCI ADALAH PENJARA
Penjara berikutnya adalah kitab suci, yang dapat kita temukan dimana-mana. Bagi orang-orang yang tidak begitu bijaksana, benda-benda ini sangat dilekati dan dianggap 'suci.' Benda-benda ini bahkan menjadi pengganti Tuhan. Bahkan hanya dengan membawa kitab suci dianggap sama dengan benar-benar mendapatkan pertolongan. Akibatnya terdapat banyak sekali benda-benda suci: relik-relik keramat, air suci, dan semua jenis benda keramat. Berhati-hatilah dengan istilah 'suci' ini. Kata ini akan menjadi penjara bahkan sebelum anda sadari. Semakin suci sesuatu, semakin ia memenjara. Waspadalah terhadap apa yang disebut 'keramat' atau 'suci.'

Anda harus tahu bahwa tidak ada yang lebih keramat daripada hukum idappaccayata (hukum pengkondisian), kesucian tertinggi di atas segalanya. Hal lainnya suci dikarenakan asumsi atau apa yang dikarang orang, yang artinya suci melalui upadana. Dimana ada kesucian melalui upadana, kesucian itu adalah penjara. Hukum idappaccayata suci dengan sendirinya, tanpa memerlukan kemelekatan apapun. Tidak dibutuhkan upadana. Hukum ini mengendalikan semuanya dan suci dengan sendirinya. Mohon jangan terperangkap dalam penjara benda-benda suci. Jangan membuat benda-benda keramat menjadi penjara bagi diri sendiri.

(bersambung... Kebaikan adalah Penjara)