Selasa, 08 Desember 2009

RACUN ~ Wiku Sadayana

Ditulis oleh Tatang Gowarman

Suasana Padepokan di siang yang terik itu betul betul sunyi dan lengang. Tidak ada angin bertiup. Hanya terdengar dengung lebah madu yang sibuk mengumpulkan sari bunga.

Wiku Sadayana baru saja berteduh sambil mengipasi badannya yang terasa panas, setelah mencabuti rumput liar yang tumbuh di ladang jagung. Tiba tiba terdengar teriak kesakitan dari balik belukar yang sedang dibersihkan. Mendengar teriakan itu beberapa cantrik padepokan berlompatan mencari asal teriakan tersebut, yang disusul dengan suara mengaduh. Mereka bergegas menghampiri sumber suara dan menemukan Citrabala sedang memegang kaki kirinya dengan wajah pusat pasi, sambil berkata: "Ular! Ular! Ada ular menggigit kakiku".
Mereka melihat kaki Citrabala yang digigit ular mulai bengkak. Segera mereka mengangkatnya ke pondok terdekat.

Citrawirya yang bersahabat dekat dengan Citrabala mendesak maju dan bertanya : "Ular apa yang menggigitmu, Citrabala?"
Dengan menahan sakit Citrabala menjawab : "Ular weling, yang belang belang hitam dan kuning".

Dengan cemas Citrawirya menukas : "Wah itu beracun ganas".

Sigap Citrabala dibaringkan. Tanpa merasa jijik Citrawirya segera menghisap luka Citrabala untuk mengeluarkan darah yang beracun.

Sementara itu Wiku Sadayana tiba. Setelah mendapat penjelasan, Wiku Sadayana segera menyuruh Citramatra untuk menyiapkan ramuan anti bisa ular untuk mengobati Citrabala yang tampak sangat menderita.

Selama 2 hari 2 malam Citrabala kesakitan menderita panas dingin. Untunglah tubuhnya kekar kuat. Pada hari ke tiga Citrabala mulai sembuh dan sudah bisa berjalan dengan bantuan tongkat.

Sore harinya Citrabala dengan dipapah 2 cantrik yang lain, berjalan menuju Sanggar Pamujan untuk mengikuti pembacaan tembang mantram.

Usai pembacaan mantra suci, seperti biasanya para cantrik menunggu petuah dan petunjuk dari Wiku Sadayana untuk mereka. Ketika melihat Citrabala hadir disitu, Wiku Sadayana bertanya : "Bagaimana keadaanmu sekarang Citrabala?".
"Oh guru, sekarang sudah jauh lebih ringan, hanya masih terasa sedikit sakit pada bagian yang tergigit dan seluruh badanku masih terasa lemah", jawab Citrabala.

"Ya, mudah-mudahan segera pulih, untung badanmu sekuat kerbau sehingga bisa pulih dengan cepat. Kalau engkau Citramatra, mungkin terpaksa berbaring sepasaran (lima hari) baru bisa pulih".

Citramatra yang berbadan kecil itu menukas sambil tertawa : "Wah guru, kalau aku, mungkin aku tidak akan pernah bangkit lagi".
Pernyataan ini langsung disambut derai tawa dari para cantrik yang lain.

Setelah derai tawa mereda, Wiku Sadayana berkata : "Cantrik-cantrikku, ada racun yang lebih berbahaya dari racun ular yang paling berbisa sekalipun".

"Apakah itu racun warangan yang biasa dibubuhkan pada keris, Guru?" tanya salah seorang cantrik.

"Kudengar penduduk daerah yang masih liar di pulau seberang menggunakan racun dari mayat yang dibubuhkan pada senjata mereka dan racun ini tidak bisa ditawarkan, apakah racun ini Guru?" tanya cantrik yang lain.

"Mungkin itu racun yang terdapat pada ekor ikan pari yang bisa membunuh orang dalam sekejap, Guru?".

Wiku Sadayana menjawab :
"Bukan, racun ini tidak berwujud. Kadang-kadang membunuh orang dengan segera. Tetapi yang paling berbahaya adalah karena dapat menyebar dan bertahan berpuluh-puluh tahun dan masih memakan korban manusia yang sangat banyak".

"Racun apakah itu Guru?" tanya Citrabala dengan suara lemah.

Setelah meneguk minuman wedang jahe yang hangat, Wiku Sadayana menjawab: "Racun itu adalah Kebencian".

Suasana Sanggar Pamujan menjadi hening, semua cantrik yang hadir memasang telinga lebar lebar, berusaha menyimak penjelasan lanjutan dari Guru yang mereka cintai.

"Kebencian dapat mengakibatkan seseorang mengambil parang atau clurit dan membunuh orang yang dibencinya. Kita tentu sering mendengar permusuhan yang sudah terjadi turun temurun antara satu desa dengan desa yang lain; antara satu perguruan dengan perguruan yang lain; antara pengikut keyakinan yang satu dengan pengikut keyakinan yang lain; dan jika ada satu saja penyebab yang memercikkan api amarah di antara pihak yang saling membenci, maka perkelahian, pembunuhan bahkan peperangan yang memakan banyak korban dapat terjadi."

Lanjut Wiku Sadayana : "Oleh karena itu dapat kukatakan bahwa kebencian adalah racun yang paling berbahaya. Yang dibenci, dapat menjadi korban sasaran amarah tanpa tahu apa penyebabnya. Sedangkan yang membenci juga menjadi korban karena batinnya tidak pernah damai, selalu dipenuhi oleh amarah, cemas, khawatir, selalu berpikiran jahat untuk mencelakakan yang dibenci. Jika perasaan benci ini ditularkan kepada anak, kerabat, para cantrik atau para pengikutnya maka kebencian menjalar kemana-mana dan mereka semua menjadi kehilangan akal sehatnya, kehilangan sifat welas asihnya ketika berpikir mengenai kelompok atau orang yang dibenci. Jika bertemu dengan orang atau kelompok yang dibenci, mereka selalu merasa khawatir, cemas, serta tidak jarang menyiapkan parang untuk menghindari didahului oleh orang yang dianggap lawan; karena itu, mereka tidak pernah hidup dengan batin yang damai."

Sunyi senyap di Sanggar Pamujan ketika para cantrik meresapi kata-kata dari Wiku Sadayana, sampai akhirnya Citrabala berkata : "Benar Guru, aku yang dipatuk ular, menjadi korban dan mungkin aku sendiri bisa tewas. Tetapi aku tidak menularkan racun ular ini kepada orang lain. Sedangkan jika aku mendendam kepada ular itu, aku dapat menularkan kebencian terhadap ular kepada teman-teman yang lain. Demikian pula bila misalnya aku membenci penduduk desa sebelah yang sering mengejek kita, kebencian ini pun bisa menjalar kepada teman-temanku disini. Kebencian adalah racun yang paling berbahaya."

"Bagus, bagus sekali pengertianmu Citrabala. Mudah-mudahan batin kita semua bebas dari kebencian. lebih baik jika kita selalu mengharapkan agar semua mahluk yang ada di sekeliling kita, mereka semua bebas dari kebencian, bebas dari amarah dan selalu dapat mempertahankan kebahagiaan mereka masing-masing."

"Sekarang sudah larut malam. Mari kita semua mengakhiri perbincangan ini dan kembali ke pondok masing-masing untuk beristirahat".

Dhyanaloka, Desember 2009

Tante Aki Jadi Sekretaris

Tentu sekarang tante aki tidak jadi sekretaris. Tapi pada waktu masih muda dulu, dan masih cantik, tante memang pernah menjadi sekretaris direksi sebuah perusahaan.

Direkturnya masih muda, dan suka menyombongkan diri. Padahal perusahaannya masih baru. Juga baru pindah ke gedung baru, baru seminggu.

Tante memberitahu direkturnya bahwa ada seseorang yang ingin bertemu.
Direktur menyuruh tante supaya mempersilakan orang itu masuk. Saat mengantar tamu, tante terhenyak berdiri di pintu masuk ruang direktur karena bossnya sedang ngomong di telepon dengan suara lantang :
"Bagus, tolong kirim pesanan saya segera! Sudah ditunggu oleh pembelinya nih, mau dikirim ke luar negeri. Jangan kuatir soal pembayaran. Langsung saya bayar kontan!"

Sambil menutup telepon, boss itu berkata : "Selamat pagi, pak. Silakan duduk. Bapak mau pesan barang untuk ke luar negeri ya? Jangan kuatir, perusahaan kami sudah berpengalaman!"

Tamu itu menggeleng. Dengan suara tertahan ia berkata : "Eh... anu, pak.... eh, tuan direktur... Saya pegawai dari kantor telepon. Ditugaskan ke sini untuk memasang sambungan telepon kantor Bapak. Kan telepon Bapak belum terpasang!"

Wkwkwkwkw!

Senin, 07 Desember 2009

Wiku Sadayana ~ Membela Umat

Ditulis oleh Tatang Gowarman

Dikisahkan Kerajaan Majapahit gonjang-ganjing dilanda berbagai masalah. Dari nilai kepeng yang jatuh, munculnya kabar angin yang menyatakan bahwa akan terjadi kelaparan yang hebat di seluruh kerajaan, mengakibatkan banyak anggota masyarakat yang panik. Mereka berebut-rebut membeli bahan pangan. Bagi yang miskin atau kehilangan pekerjaan, mereka pun seperti hilang akal, apalagi jika anak anak mereka sudah menangis meminta makan. Banyak orang baik-baik menjadi pelanggar sila.

Kejadian ini diperburuk lagi dengan timbulnya kerusuhan di mana-mana. Bahkan ada perkampungan yang dirampok, dijarah , dibakar, kaum wanita diperkosa, disiksa, dibunuh dan berbagai tindakan yang sudah diluar batas kemanusiaan.

Semua kejadian ini membuat para wiku prihatin. Mereka merasa sedih atas penderitaan masyarakat yang menjadi korban. Mereka juga sedih kepada para pelaku yang tidak mengerti bahwa walaupun para pelaku itu bisa lolos dari hukum negara, namun hukum karma terus berjalan.

Kerusuhan yang terjadi, membuat anggota masyarakat khawatir.
Merekapun bersiap-siap mempertahankan diri, bersama-sama dengan warga sedesa beramai-ramai melakukan penjagaan ketat.

Namun sebagai Umat Buddha yang saleh, banyak diantara mereka yang ragu-ragu karena persiapan yang dilakukan sudah merupakan persiapan tempur. Berbagai tombak, parang , panah, pisau, keris dan pedang diasah dan disiapkan. Bila terjadi lagi kerusuhan akan mengakibatkan banjir darah bahkan nyawa melayang. Sedangkan selama ini kehidupan mereka selalu damai dan penuh welas asih. Sungguh bertentangan antara ajaran dari Sang Buddha dengan kelakuan mereka mempersiapkan diri.

Timbul berbagai perdebatan di antara mereka.
Ada yang menyatakan bahwa harus tetap memegang Sila. Tindakan yang dapat menyebabkan pembunuhan harus dihindari. Yang lain menentang, karena walaupun sudah menyerahkan seluruh hartanya, ada yang tetap dianiaya dan dibunuh, sehingga tidak ada gunanya memegang Sila erat-erat toh celaka juga.

Yang lain menyarankan untuk melarikan diri, pindah ke daerah lain agar tidak perlu melanggar Sila. Dan masih banyak lagi berbagai usulan yang saling bertentangan. Tidak ada kata sepakat di antara mereka, semua berpegang pada pendirian sendiri-sendiri.

Akhirnya mereka memutuskan untuk bertanya kepada para wiku yang dianggap ahli dalam hal Dharma. Namun para wiku itupun tidak sepakat, ada yang ingin tetap mempertahankan Sila dan penuh welas asih, ada yang ingin bertempur saja, dan para umat makin bingung jadinya.

Ada seorang di antara mereka yang kritis, yang mengajukan usul agar bertanya kepada Wiku Sadayana. Walaupun jawaban beliau kadang-kadang seperti bertentangan dengan ajaran Sang Buddha, namun sangat bermanfaat karena banyak yang bisa diterapkan oleh umat biasa.

Kali ini rombongan itu dipimpin oleh Viriyabala, seorang pemuda yang cerdas dan berani. Viriyabala bertanya :
"O, Bhante, kami sedang dalam kebingungan, mohon Bhante memberi petunjuk.
Selama ini para wiku membabarkan ajaran yang penuh welas asih kepada semua mahluk hidup; namun sekarang ini, kehidupan kami bisa terancam oleh serangan para perampok, bila kami membela diri dan bertempur dengan mereka, besar kemungkinan kami akan membunuh atau terbunuh. Jika membunuh kami akan melanggar Sila, sedangkan jika diam saja, kami bisa terbunuh termasuk anak dan istri kami, apa yang harus kami lakukan?
"

Wiku Sadayana menjawab: "Kewajiban umat dan kewajiban wiku, sangat berbeda. Umat awam harus berani membela kehidupan mereka sendiri, dan membela kehidupan orang-orang yang mencintai dan dicintai mereka. Memang benar bahwa membunuh adalah suatu pelanggaran Sila yang berat, dan menimbulkan akibat karma buruk. Namun hal itu perlu dilihat untuk apa pembunuhan itu terjadi dan mengapa sampai terjadi. Bahkan jika seandainya anda berdiam diri saja, sehingga orang yang dapat anda lindungi terbunuh mungkin bersama anda juga, maka keputusan anda berdiam diripun juga menyebabkan terjadinya pembunuhan, dan inipun menimbulkan karma yang buruk yang berat, karena anda tidak bertanggungjawab sehingga terjadi pembunuhan pada diri anda sendiri dan orang lain"

Viriyabala berkata : "Jadi menurut Bhante, kami boleh bertempur untuk mempertahankan diri kami, dan jika sampai membunuh masih lebih ringan karma buruknya daripada pasrah saja?"

Wiku Sadayana menjawab :
"Viriyabala, bagus sekali pertanyaanmu ini.
Tetapi sebaiknya janganlah anda katakan 'menurut Bhante'. Sebaliknya mari kita bicarakan sejenak mengenai faktor-faktor yang menimbulkan karma.
Ada 4 faktor yang menimbulkan karma yang pertama adalah cetana atau niat, yang kedua adalah adanya pelaku, yang ketiga adalah adanya obyek dan yang ke empat adanya kondisi atau situasi yang masak. Jika niat anda adalah menghalangi terjadinya pembunuhan/penganiayaan tentunya tindakan anda untuk bertempur untuk mempertahankan diri adalah baik. Jika sampai tanpa sengaja anda membunuh, namanya juga tidak sengaja, artinya tidak ada niat untuk membunuh walaupun yang ada adalah niat untuk melumpuhkan atau menjatuhkan si penyerang juga tetap melahirkan karma. Dan juga jika anda bersiap diri untuk bertempur, apalagi bersama teman anda, ada kemungkinan besar kondisi untuk terjadinya pembunuhan dan penganiayaan tidak terbentuk, sehingga pertempuran bisa tidak terjadi. Sebaliknya jika anda mendiamkan saja walaupun anda tahu akan terjadi penganiayaan dan pembunuhan, tetap akan ada karma buruk, karena niat mendiamkan tersebut melahirkan kondisi terjadinya penganiayaan dan pembunuhan.
"

Setelah berdiam sejenak , Viriyabala berkata: "Bhante untuk meyakinkan kami, bila terjadi di wihara ini misalnya ada serombongan wanita dan anak-anak mengungsi ke vihara, lalu para perampok yang mengejar mereka tidak mau melepaskan mereka, dan tetap menuntut untuk mendapatkan wanita dan anak-anak tersebut, apa yang akan Bhante lakukan?"

Wiku Sadayana tersenyum lebar dan berkata : "Viriyabala, engkau sungguh cerdik, dengan pertanyaanmu ini, jelaslah aku harus mengambil keputusan.
Baiklah, jika hal itu terjadi, yang pertama aku lakukan adalah mencoba berbicara dan menjelaskan kepada kawanan perampok tersebut agar tidak melakukan hal-hal yang menimbulkan karma buruk pada mereka sendiri.
Namun bila upaya ini tidak berhasil karena mereka diliputi oleh angkara murka, maka aku akan melepaskan jubahku, dan menjadi umat biasa agar tidak melanggar Sila yang luhur yang dibabarkan oleh Hyang Buddha, dan aku akan mengambil tongkat pemukul ataupun parang, untuk mempertahankan keselamatan wanita dan anak-anak tersebut.
"

Dhyanaloka 25 Juli 1998