Selasa, 18 Mei 2010

DHYANI BUDDHA di BOROBUDUR

Patung Dhyani Buddha yang berada di Borobudur pada awalnya berjumlah 504 . Sayang sekarang tinggal 300 lebih, itupun dalam keadaan rusak (rata–rata kepalanya hilang). Sungguh menyedihkan, warisan sejarah yang begitu megah kini tidak lagi diakui sebagai salah satu keajaiban dunia.

Initially there were 504 Buddha statues in Borobudur. Unfortunately, now there are only some 300 left. Also, most are in broken condition. However, it does not disturb the grandeur of Borobudur as a whole. Borobudur is still the greatest Buddhist monument on earth.

DHYANI BUDDHA AMOGHASIDDHI
Arah mata angin : Utara
Nama mudra : Abhaya-mudra
Bentuk mudra
Tangan kiri terbuka dan menengadah dipangkuan, sedang tangan kanan diangkat sedikit diatas lutut sebelah kanan dengan telapak menghadap kemuka.

Facing North.
Abhaya in Sanskrit means fearlessness. Thus this mudra symbolizes protection, peace, and the dispelling of fear. It is made with the right hand raised and the palm of the hand facing outward. The left hand rests on the feet.


DHYANI BUDDHA AKSOBHYA
Arah mata angin : Timur
Nama mudra : Bhumisparsa-mudra
Bentuk Mudra
Tangan kiri menengadah di atas pangkuan, sedang tangan kanan menempel pada lutut kanan dengan (telapak menengadah kebawah/menelungkup) jari menunjuk kebawah.

Facing East.
Literally Bhumisparsha translates into 'touching the earth'. It is more commonly known as the 'earth witness' mudra. This mudra, formed with all five fingers of the right hand extended to touch the ground, symbolizes the Buddha's enlightenment under the bodhi tree, when he summoned the earth goddess, Sthavara, to bear witness to his attainment of enlightenment. The right hand, placed upon the right knee in earth-pressing mudra, and complemented by the left hand-which is held flat in the lap in the dhyana mudra of meditation.


DHYANI BUDDHA RATNASAMBHAWA
Arah mata angin : Selatan
Nama mudra : Wara-mudra
Bentuk Mudra
Tangan kiri terbuka dan menengadah dipangkuan, sedang tangan kanan menempel pada lutut kanan menengadah ke arah atas.

Facing South.
This mudra symbolizes charity, compassion and boon-granting. It is the mudra of the accomplishment of the wish to devote oneself to human salvation. It is made with the palm of the open hand facing forward, and the fingers extended.




DHYANI BUDDHA AMITABHA
Arah mata Angin : Barat
Nama mudra : Dhyana-mudra
Bentuk Mudra
Kedua tangan kanan diletakkan dipangkuan, yang kanan diatas yang kiri, dengan telapak kanan menengadah dan kedua jempolnya saling bertemu.

Facing West.
This meditation mudra shows both hands are placed on the lap. The right hand is placed above the left, with the palms facing upwards, and the fingers extended.




DHYANI BUDDHA WAIROCANA
Arah mata angin : Pusat
Nama mudra : Witarka-mudra
Bentuk Mudra
Tangan kiri terbuka di atas pangkuan dan tangan kanan sedikit terangkat di atas lutut kanan dengan telapak menghadap ke muka dan jari telunjuknya menyentuh ibu jari.

Centre.
The gesture of discussion and debate indicates communication and an explanation of the Dharma. The tips of the thumb and index finger touch, forming a circle. All other fingers are extended upwards.


HAPPY VESAK 2554 Buddhist Era.
May all beings be happy!

Senin, 17 Mei 2010

KEBOHONGAN TERBESAR

Romo Pandita hampir pulang saat melihat anak-anak Sekolah Minggu mengerumuni seekor anjing.



"Anjing siapa ini? Lucu sekali."

"Tidak ada yang tahu, romo. Mungkin dibuang pemiliknya. Kasihan. Kami sedang bertaruh, siapa yang bisa membuat kebohongan terbesar, dia lah yang akan mendapatkan anak anjing yang lucu ini."

Dengan terkejut Romo Pandita berkata : "Wah... wah... wah! Berbohong kok malah diperlombakan! Kalian tidak boleh berlomba-lomba membuat kebohongan. Waktu saya seumur kalian, saya bahkan tidak berani berbohong."

Anak-anak itu terdiam. Pandita merasa senang karena ia pikir anak-anak itu sudah meeasa menyesal.

Tiba-tiba anak yang paling kecil berkata : "Apa boleh buat. Romo Pandita berhak mendapatkan anjing yang lucu ini deh. Romo telah menceritakan kebohongan terbesar, lebih besar dari teman-teman semua!"

Wkwkwkwk...!

Minggu, 16 Mei 2010

TENTANG KEBOHONGAN

Ibu Pandita menutup kotbahnya hari ini dengan berkata :
"Minggu depan saya akan berkotbah tentang kebohongan. Saya harap semua umat dalam minggu ini bersedia membaca Dhammapada bait 424 dan merenungkannya. Tolong dilaksanakan ya, jangan sampai tidak."

Minggu berikutnya, Ibu Pandita maju dan berkata : "Sesuai dengan apa yang sudah saya pesankan minggu lalu, apakah umat sudah membaca Dhammapada bait 424? Siapa yang belum membaca, angkat tangan."

Umat tentu saja belum membaca. Tapi karena mereka tidak mau menyinggung perasaan Ibu Pandita, tidak ada mengangkat tangan.

Ibu Pandita berkata lagi : "Wah, bagus sekali, jadi rupanya semua sudah membaca, ya?"
Beberapa umat, terutama yang di depan, malu-malu mengangguk.


Ibu Pandita tersenyum dan berkata : "Kalau begitu mestinya semua tahu bahwa di dalam Dhammapada hanya ada 423 bait! Nah, sekarang saya akan memulai kotbah saya tentang kebohongan."

Wkwkwkwk...!


(besok: KEBOHONGAN TERBESAR)