Kamis, 25 Maret 2010

Makan kue dan minum teh

Seorang bhikshu Jepang sangat pandai dalam menghafal Sutra Teratai (Saddharmapundarika-sutra /Myohorengekyo /Miauw Fa Lien Fa Cing).

Suatu hari dalam perjalanan ia merasa sangat lapar dan haus. Tapi Jepang adalah negara yang sangat komersial, tak ada yang gratis! Padahal ia tak punya uang.

Ia pun berkata kepada nenek penjual kue dan teh di pinggir jalan :
"Nenek, kalau kamu bagi saya kue dan teh, saya akan membagi kamu pengetahuan mengenai Sutra Teratai yang luar biasa ini."

Nenek itu menjawab : "Oh, rupanya bhikshu ahli sutra. Tolong terangkan kepada saya, kalau bhikshu makan kue dan minum teh, pakai batin yang mana? Batin yang dahulu, batin yang sekarang atau batin yang akan datang?"

Bhikshu itu mengernyitkan dahi. Ia coba mengingat-ingat tapi rasa-rasanya dalam Sutra Teratai tidak ada penjelasan mengenai hal itu. Ia pun duduk dan membuka Sutra Teratai dari bungkusan berat yang selalu digendongnya.

Sampai sore hari ia membaca Sutra Teratai, namun tetap tidak berhasil mendapatkan jawabannya. Hari sudah semakin sore dan nenek itu mulai mengemasi dagangannya.

"Kamu memang bhikshu yang pandai membaca Kitab!", kata si nenek.
"tapi, makan kue dan minum teh mah tetap aja mesti pakai mulut, atuh, bukan pakai batin."

Wkwkwkwkwk....!

Repost dari "Senyum sejenak - Jumat", 24 Juli 2009