Jumat, 04 Juni 2010

LUMPIA, PASTOR dan HAK AZASI

Dua minggu yang lalu (iya, udah lama. Tapi masih berbekas kuat di ingatan aki), ada suatu peristiwa memalukan. Aki niat membeli lumpia. Di kios itu ada banyak jenis lumpia. Ada lumpia ayam, lumpia keju, lumpia udang, lumpia sapi, lumpia sayur, lumpia pisang coklat, lumpia etc etc...
Mbak penjaja kios dengan ramah menawarkan, yang ini enak, yang itu gurih dst dst. Aki agak bingung dan tertegun sebentar. Akhirnya mbak itu mengeluarkan jurus pamungkas : "Atau semua aja, masing-masing satu..."
Dari mulut aki - tanpa sempat disadari lagi - langsung terperucut : "Yang beli AKU atau kamu...?"
Mbak itu pucat dan terdiam. Aki buru-buru beli dua lumpia sayur dan dua pisang coklat, lalu pulang.

Malu .....

Ternyata ... saat santai dan tidak terbebani intensitas pekerjaan tidak otomatis membuat aki bisa dengan mudah mengatasi marah. Ada yang sudah puluhan tahun menjadi bhikkhu tapi kalau marah lebih galak daripada Satpam di kampung aki. Ada pengusaha dengan lima pabrik tapi bisa mengarahkan ribuan karyawannya secara santun. Tentu saja ada juga berbagai jenis orang di antara kedua ekstrim tersebut.

Empat puluh tahun lalu di Bandung ada seorang pastor yang selebritis, suka nulis di Kompas dan banyak fansnya. Namanya MAW Brouwer. Dia pernah terus terang mengaku bahwa bahkan buat seorang pastor berumur 60 tahun, tetap saja tidak mudah menjalankan aturan selibat (pantang sex). Ternyata tidak serta merta umur membuat orang lebih jinak ....

Saat marah, ego kita dihantui ilusi seolah kita adalah yang "lebih benar, lebih pintar, lebih baik, lebih mengetahui, lebih berkuasa dll dll".
Maukah (perlukah?) kita tetap mempertahankan ilusi ini?

"....Setiap manusia punya HAK AZASI untuk memutuskan sejauh mana ia mau melakukan, atau tidak melakukan, hal-hal tersebut .... "

Having said that, kita tidak boleh lupa bahwa juga ada KEWAJIBAN AZASI. Setiap manusia punya KEWAJIBAN AZASI untuk berlatih dengan baik, untuk berupaya sungguh-sungguh supaya secepatnya terbebas dari lobha, dosa, moha.

Kita tidak mau terus menerus lahir berulang-ulang sebagai manusia, bukan? Atau ular, atau cacing).


Catatan : Ini juga posting ulang dari FB tgl 25 Mei 2009.