Minggu, 31 Januari 2010

BRAHMA TIDAK TAHU

Pada jaman Buddha, ada seorang bhikkhu yang begitu pandai sehingga ia bisa mencapai alam para dewa.

Demikianlah ia bermeditasi memasuki alam dewa dan bertanya : "Bilakah keempat unsur utama lenyap tanpa sisa?"
Para dewa tidak mampu menjawab. Mereka menyarankan agar bhikkhu itu bertanya kepada Empat Raja Besar (Cattu Maharajika). Tetapi ternyata keempat Raja Besar itu pun tak tahu jawabnya.

Maka keempat Raja Besar itu menyarankan kepada bhikkhu supaya bertanya kepada 32 dewa di surga yang lebih tinggi.

Bhikkhu itu kembali berlatih meditasi sampai akhirnya ia mencapai alam 32 dewa luhur.
Ia pun bertanya : "Bilakah keempat unsur utama lenyap tanpa sisa?"
Lagi-lagi para dewa yang luhur itu tidak mampu menjawab, dan menyarankan agar ia bertanya pada Sakka, raja para dewa.

Sakka tidak bisa menjawab. Ia menyarankan agar bhikkhu itu bertemu dengan Yama yang lebih tinggi.

Maka bhikkhu itu pun berlatih meditasi lagi dengan lebih tekun, supaya bisa mencapai alam para Yama.
Ia bertanya : "Bilakah keempat unsur utama lenyap tanpa sisa?"
Para Yama pun ternyata tidak dapat menjawab.

Demikianlah terus berlangsung sehingga akhirnya bhikkhu itu harus bertanya kepada para Brahma. Ternyata para Brahma tetap tidak mampu menjawab.
Akhirnya bhikkhu itu menghadap Maha Brahma, raja para Brahma, dan bertanya : "Bilakah keempat unsur utama lenyap tanpa sisa?"

Maha Brahma tidak menjawab, malah berkata : "Akulah Maha Brahma, Yang Terbesar, Yang Utama, Yang Mengetahui Segalanya, ... dstnya, dstnya."

Bhikkhu itu dengan hormat mengulangi pertanyaannya : "Bilakah keempat unsur utama lenyap tanpa sisa?"

Sekali lagi Maha Brahma tidak menjawab, malah berkata : "Akulah Maha Brahma, Yang Terbesar, Yang Utama, Yang Mengetahui Segalanya, ... dstnya, dstnya."

Hampir habis sabar bhikkhu itu berkata : "Ya, Yang Maha Mulia, aku pun tahu bahwa engkau adalah Maha Brahma, Yang Terbesar, Yang Utama, Yang Mengetahui Segalanya, ... dstnya, dstnya. Tetapi aku bertanya, bilakah keempat unsur utama lenyap tanpa sisa?"

Sekali ini Maha Brahma tidak menjawab apa pun. Secepat kilat ia menangkap bhikkhu itu dengan tangannya yang perkasa, dan membawanya pergi ke ujung terpencil, jauh dari segala kehidupan. Penuh wibawa, Maha Brahma bersabda : "Bhikkhu, kamu bertanya tentang itu. Lihatlah semua para dewa dan Brahma, selama ini mereka menyangka aku mengetahui segalanya. Mengapa kamu bertanya hal itu di depan mereka semua? Apakah engkau bermaksud melecehkan diriku di depan para dewa dan Brahma?"

Bhikkhu itu heran : "Lho, kamu kan Maha Brahma? Kalau kamu tidak tahu, siapa yang tahu dong?"

Maha Brahma menjawab setengah membentak setengah berteriak : "Kamu bodoh! Di dunia kan ada Buddha. Mengapa kamu tidak bertanya pada Buddha? Berhentilah mengganggu aku!"

Bhikkhu itu pun kembali ke dunia dan bertanya pada Buddha.

Buddha tertawa dan bercerita : "Duhai bhikkhu, pada jaman dahulu, para pelaut melepas burung untuk mengetahui apakah daratann sudah dekat. Kalau burung itu kembali ke perahu, artinya daratan masih jauh dan belum kelihatan, sehingga burungnya terpaksa kembali ke perahu. Engkau seperti burung itu. Pergi meninggalkan perahu, akhirnya tidak menemukan daratan, dan terpaksa kembali bertanya padaku."

Bhikkhu itu sadar dan turut tertawa.

Barulah Buddha menjawab :
"Saat keempat unsur utama itu lenyap tanpa sisa adalah Nibbana."