Kamis, 27 Mei 2010

PESAN WAISAK 2554/2010 Sangha Theravada Indonesia

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Natthi ragasamo aggi, Natthi dosasamo kali
Natthi khandhasama dukkha, Natthi santiparam sukham


Tidak ada api sepanas nafsu, Tidak ada kejahatan yang menyamai kebencian
Tidak ada penderitaan yang menyamai proses kelangsungan hidup,
Tidak ada kebahagiaan melebihi kedamaian sejati.
(Dhammapada, 202)


Kelahiran, Pencapaian Pencerahan Spiritual, dan Pencapaian Parinibbana (Mangkat Sempurna) Buddha Gotama merupakan tiga peristiwa suci (Trisuci) yang diperingati pada Hari Raya Waisak. Peristiwa pertama saat Kelahiran Siddhartha Gotama, putra mahkota kerajaan Kapilavasthu, di India Utara, pada hari purnama di bulan Waisak tahun 623 SM. Sedangkan peristiwa kedua adalah Pencapaian Pencerahan Spiritual Siddhartha Gotama menjadi Buddha yang terjadi pada hari purnama di bulan Waisak tahun 588 SM. Kemudian selama 45 tahun Buddha membabarkan ajaran Kebenaran Dhamma kepada masyarakat luas. Akhirnya peristiwa ketiga terjadi ketika Buddha Gotama mangkat sempurna mencapai Parinibbana dalam usia 80 tahun pada hari purnama di bulan Waisak tahun 543 SM.

Kehadiran Buddha di dunia ini membuka pandangan masyarakat luas terhadap keberadaan Kebenaran Dhamma yang berlaku secara universal. Melenyapkan ketidaktahuan dan memunculkan pengetahuan terhadap fenomena hidup. Perubahan yang terjadi pada setiap sendi kehidupan merupakan salah satu fenomena hidup. Kebijaksanaan menuntun manusia untuk menerima kenyataan kebenaran serta menyikapi dengan tepat kebenaran itu. Menggunakan perubahan sebagai kondisi dan peluang kesempatan untuk merubah hidup kearah harapan hidup lebih baik. Perubahan terjadi dalam segala sesuatu yang berkondisi, orang yang menyikapi hal itu dengan bijak, maka ia tidak akan mengalami penderitaan, inilah pandangan mulia yang menuju kepada pencerahan spiritual (Dhammapada, 277).

Dengan Kedamaian Membangun Kebahagiaan Sejati, demikian tema Peringatan Hari Raya Waisak 2554/2010 yang diangkat oleh Sangha Theravada Indonesia. Kedamaian dan pertikaian merupakan dua hal yang saling berlawanan dalam hidup kita. Pada umumnya pertikaian sangat mudah terjadi karena terdapatnya perbedaan yang dimaknai sebagai permusuhan. Perbedaan itu ingin ditiadakan karena dipandang mengancam kelangsungan hidup. Memang pada saat manusia masih berpikiran bahwa kelangsungan hidupnya sendiri jauh lebih utama dibandingkan dengan kelangsungan hidup orang lain ataupun makhluk lain, maka pertikaian selalu terjadi. Padahal setiap manusia mempunyai kesempatan untuk hidup di dunia ini saling berdampingan, meskipun terdapat perbedaan tingkat kekayaan, kepandaian, kedudukan. Kedamaian perlu diupayakan terjadi sebagai perwujudan dari penerimaan perbedaan yang dimaknai sebagai persahabatan. Tentu persahabatan yang benar adalah persahabatan yang tumbuh bertumpu pada kode etik, norma moral, dan nilai spiritual luhur, bukan persahabatan yang merupakan persekongkolan kejahatan ataupun kecurangan. Persahabatan yang diajarkan oleh Buddha hendaknya berpegang teguh pada sikap malu berbuat buruk (Hiri) dan takut terhadap akibat perbuatan buruk (Ottappa). Sebagian besar orang tidak mengetahui bahwa dalam pertikaian mereka dapat binasa, tetapi mereka yang menyadari kebenaran itu akan segera mengakhiri semua pertikaian (Dhammapada, 6).

Suasana damai bukan saja terdapat dalam relasi antar sesama manusia, tetapi kedamaian juga perlu dimiliki dalam diri pribadi manusia itu sendiri, serta dalam relasi antara manusia dengan lingkungan hidupnya. Pertikaian dalam diri manusia akan menimbulkan kecemasan, kekawatiran, ketakutan, bahkan ada manusia yang tidak mampu menghadapi pertikaian dalam dirinya dengan cara mengakhiri hidup sendiri. Pertikaian antar sesama manusia akan menimbulkan ketidaknyamanan hidup, permusuhan antar sesama manusia dapat menimbulkan tindakan kekerasan dan peperangan yang saling membinasakan. Pertikaian antara manusia dengan lingkungan hidup akan menimbulkan ketidakharmonisan lingkungan hidup, musibah banjir, tanah longsor, pencemaran lingkungan, bahkan dampak pemanasan global mengancam hidup manusia. Karena itu diantara dua pilihan sikap perilaku, bertikai atau berdamai, tentu berdamai menjadi pilihan yang benar, karena kedamaian dapat dipergunakan sebagai sarana untuk memperoleh kebahagiaan sejati.

Kedamaian dapat terjadi apabila manusia mampu meningkatkan kualitas hidupnya masing-masing untuk menghindari keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin. Keserakahan ibarat api panas yang berkobar dalam kenikmatan dan ketidakpuasan, sedangkan kebencian seringkali merupakan penyebab perilaku jahat. Kegelapan batin membuat manusia tidak memiliki prinsip yang tepat dalam hidupnya.

Nafsu serakah atau tamak tidak akan padam selama manusia belum mampu menyadari bahwa nafsu itu bukannya menyenangkan tetapi menyebabkan manusia terjerat makin kuat dalam ikatan nafsu yang berakibat pada pelupaan ataupun peniadaan keberadaan orang lain ataupun lingkungan hidupnya. Perilaku manusia menjadi arogan bahkan sewenang-wenang terhadap orang lain dan lingkungan hidup. Kehancuran orang lain dan lingkungan hidup tidak dipahami, karena yang diketahui adalah terpuasinya nafsu serakah tersebut.

Kebencian dapat dipadamkan apabila manusia menyadari kebersamaan hidup sebagai keniscayaan untuk saling peduli. Ingatan kebersamaan menjadi dasar bagi pelenyapan kebencian. Karena kebersamaan adalah menghargai keberadaan hidup manusia, meskipun manusia memiliki perbedaan-perbedaan dalam banyak hal, suku bangsa, agama, bahasa, budaya. Keberadaan hidup adalah perihal hidup-mati manusia, berbeda dengan kualitas perilaku hidup yang bisa baik-buruk. Terhadap kualitas perilaku baik tentu kita mendukung, tetapi terhadap kualitas perilaku buruk hendaknya kita menghindari.

Prinsip hidup sering tidak jelas, bahkan prinsip Kebenaran Dhamma sering diabaikan. Kemudian manusia menggunakan prinsip hidup lain seperti mengambil keuntungan untuk diri sendiri dari kesempatan yang ada tanpa berpegang pada prinsip etik moral spiritual luhur. Kebenaran Dhamma memberi tuntunan bagi manusia untuk memegang teguh prinsip etik moral spiritual luhur. Dampak langsung dari penggunaan prinsip etik moral spiritual itu adalah munculnya ingatan kebersamaan hidup yang merupakan sikap tepat untuk melenyapkan kegelapan batin. Kebersamaan akan menimbulkan pola pikir yang luas, minimal terhadap orang-orang yang ada disekelilingnya ataupun lingkungan hidup sekitarnya. Kepedulian terhadap orang lain dan lingkungan hidup ini merupakan kepekaan pikiran manusia yang bisa dibangun dengan diawali oleh sikap belas kasih terhadap penderitaan dalam kehidupan orang lain dan lingkungan hidup ini.

Selamat Hari Raya Waisak 2554/2010.
Marilah kita mewujudkan kedamaian dalam diri kita masing-masing, di antara kita bersama, dan antara kita dengan lingkungan hidup ini agar kita dapat membangun kebahagiaan sejati. Kebahagiaan yang dicita-citakan oleh masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia tercinta.


Semoga Tuhan Yang Maha Esa, Tiratana, selalu melindungi.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia


Kota Mungkid, 28 Mei 2010
SANGHA THERAVADA INDONESIA

Bhikkhu Jotidhammo, Mahathera
Ketua Umum / Sanghanayaka