Kamis, 06 Mei 2010

Shurlekkha, slokha 30 - 33

भवद्भिर्ब्राह्मणभिक्षुदेवातिथिमातापितृकुलमहिषीभ्यः।
पापं नाचरणियं यतः कतमोऽपि न नरकफलस्य भागी॥३०॥
bhavadbhirbrāhmaṇabhikṣudevātithimātāpitṛkulamahiṣībhyaḥ|
pāpaṁ nācaraṇiyaṁ yataḥ katamo'pi na narakaphalasya bhāgī||30||

Jangan lakukan ketidakbajikan, meski itu demi brahmana,
Bhiksu, dewa ataupun tamu, ayah atau ibu,
Anak, istri ataupun pengikut.
Mereka sedikitpun tak akan berbagi akibatnya.


न च कृन्तति पापकर्म तत्क्षणमस्त्रपातवत् कमपि पापिनम्।
मृत्योर्हि समये किन्तु तत्कर्मणः फलमभिमुखीभवत्येव॥३१॥
na ca kṛntati pāpakarma tatkṣaṇamastrapātavat kamapi pāpinam|
mṛtyorhi samaye kintu tatkarmaṇaḥ phalamabhimukhībhavatyeva||31||

Meski perbuatan karma buruk
Tak akan langsung melukai seperti sebilah pedang,
Akibat dari karma buruk akan terlihat
Berwujut ketika saat kematian datang.


सप्तधनान्युक्तानि श्रद्धाशीलत्यागामलश्रुतधियः।
अपत्रपा ह्री मुनिना मुधैवापरधनानि हि साधारणानि॥३२॥
saptadhanānyuktāni śraddhāśīlatyāgāmalaśrutadhiyaḥ|
apatrapā hrī muninā mudhaivāparadhanāni hi sādhāraṇāni||32||

Sang Muni (Buddha) menyatakan tentang tujuh harta: keyakinan, sila,
Kemurahan hati, belajar (dharma), demikian pula rasa malu,
Kesederhanaan, kebijaksanaan.
Anggap kekayaan lain sebagai biasa dan tanpa guna.


द्यूतक्रीडा कौतुकदर्शनालस्यकुमित्रसङ्गमदिराश्च।
निशाविहरणं षडिमे त्याज्या दुर्गतिदा यशोविनाशकाश्च॥३३॥
dyūtakrīḍā kautukadarśanālasyakumitrasaṅgamadirāśca|
niśāviharaṇaṁ ṣaḍime tyājyā durgatidā yaśovināśakāśca||33||

Berjudi, ikut pesta pora, kemalasan dan
Teman yang jahat, minuman keras serta keluyuran di malam hari, Menuntun pada keadaan yang rendah dan lenyapnya nama baik. Tinggalkan keenam kegiatan tersebut.


Dikutip dari Shurlekkha, slokha 30 - 33, oleh Guru Nagarjuna.

Romo SURYA MAHENDRA menulis ini untuk Komunitas Bhumisambhara

PENJELASAN


Motivasi orang melakukan perbuatan buruk pada umumnya terdorong oleh keterikatan dan dilandasi ketidak tahuan. Keterikatan pada kebahagiaannya sendiri, ingin membahagiakan keluarganya, ingin berbakti pada orang tuanya, pendetanya, sangha, dewanya atau bangsa dan negaranya. Namun demikian, setelah hal yang buruk dilakukan, pada akhirnya dia sendiri yang akan menanggung buah karmanya. Semua yang mendorong perbuatan itu dilakukan, tak akan ikut menangggung akibatnya. Karena itu penting untuk berpegang erat pada prinsip 'jauhi ketidak bajikan'.

Jika perbuatan buruk akibatnya dapat langsung dirasakan, maka didunia ini semua orang akan menjauhinya. Karena akibatnya baru akan muncul di kemudian hari, maka orang tak sedikit yang ragu akan kebenaran ajaran moralitas. Karma buruk, meski hanya kecil, bila berbuah ia bagaikan setetes nila yang akan merusak susu sebelanga. Seujung kecil duri tajam, bila menusuk kaki kita, seluruh tubuh kita akan terganggu dan terguncang. Pun demikian pula dengan karma buruk, yang kecil membuat kita sakit, dimusuhi orang lain, kekurangan, hidup tertekan jauh dari damai dan bahagia. Yang berat membuat kita cacat, pendek umur bahkan lahir di ketiga alam rendah; alam binatang, alam preta dan alam neraka.

Tujuh harta tersebut (slokha 32) tak akan pernah habis, tak akan tertinggal pada saat kita mati, dan juga tak dapat dirampas oleh orang lain. Berbeda sekali dengan harta kita yang biasa. Jelas sekali saat kita mati akan jatuh ketangan orang lain. Yang terbawa hanya sedikit yang kita amalkan. Bahkan kadang sebelum seseorang mati, ia sendiri menjadi saksi bagaimana harta yang menggunung dirampas atau berpindah tangan. Oleh karena itu, praktik Dharma seseorang haruslah dalam skema mendulang tujuh harta ini. Hanya absen hari minggu di Vihara, baca parita satu jam, senyam senyum dengan teman-teman vihara, rapat ini dan itu, jika semua itu tak secara langsung menyentuh subtansi meningkatnya timbunan tujuh harta tersebut, patut untuk segera diperbaiki. Buddha Dharma adalah jalan hidup, harus dijalani dengan seksama. Halangan dan hambatan, bila muncul, harus dihadapi dan menjadi ukuran akan keteguhan hati.

Judi, pesta-pesta, malas, berteman dengan orang-orang yang buruk, mabuk, keluyuran di malam hari adalah hal yang membawa kemerosotan. Itu seperti menyia-nyiakan berkah hidup yang begitu berharga. Judi adalah kebiasaan yang buruk, latihan mental penuh harap yang mengabaikan hukum sebab akibat. Orang ingin banyak uang jelas sekali harus bekerja atau berdagang, bukan mencorat-coret dan membolak balik buku ramalan. Keterikatan akan pesta akan menumbuhkan anggapan bahwa hidup ini menyenangkan, lalu meragukan ajaran Buddha bahwa seluruh samsara diliputi dukkha. Teman yang buruk menjerumuskan kita, banyak orang jadi kacau faham dan jalan hidupnya hanya karena terseret oleh teman-temannya. Di dunia ini banyak sekali komunitas-komunitas yang dibuat untuk menutupi kelemahan dan ketidak bajikan. Hati-hatilah dalam memilih teman dan jangan mudah terpengaruh omongan manis bujuk rayu orang lain. Bersikap dewasa bijak dan mengedepankan nalar sehat adalah proteksi diri yang baik. Jauhi enam hal yang membawa kemerosotan hidupmu ini. Jika engkau tidak menghargai hidupmu, maka tak ada orang lain yang akan menghargainya. Hidup ini mudah sekali menjadi salah arah dan sia-sia.

Arahkan hidupmu untuk hal-hal yang baik, karena seperti yang dinyatakan dalam sutra, setelah kesempatan ini lepas, sungguh sulit untuk menjadi manusia kembali.

Semoga Sang Tri Ratna memberkati.