Minggu, 15 November 2009

ALIRAN ~ Wiku Sadayana

Ditulis oleh D Tatang Gowarman, 24 Oktober 2001

Wiku Sadayana sedang mengisi tempayan besar dengan air untuk mandi, ketika dikagetkan oleh Citramatra muridnya yang baru kembali dari ibukota kerajaan.
Citramatra mendesak ingin bercerita kepada gurunya mengenai keadaan di ibukota. Setelah membasuh kaki dan tangannya, mereka duduk di bawah pohon yang rindang.
Wiku Sadayana bertanya : "Muridku apa yang membuat engkau menjadi tegang dan gelisah seperti ini? Ceritakan padaku apa yang kau lihat di ibukota."

Citramatra menjawab : "Oh guru, setelah aku membeli minyak
untuk keperluan vihara, aku berjalan pulang. Dalam perjalanan itu aku melihat sekumpulan orang yang sedang menyaksikan orang berdebat. Mereka berkata-kata dengan keras, dan karena banyak kalimat-kalimat mengenai Guru Agung kita, maka aku tertarik dan mendekat serta ingin mendengarkan lebih jelas. Mereka berdebat dengan suara keras menyatakan apa yang diyakininya yang benar. Yang satu mengatakan bodhisattva belum sesuci arahat. Yang satunya lagi mengatakan sama sucinya, tetapi memilih menunda untuk membantu yang lain, dan arahat adalah mahluk suci yang egois. Masih banyak lagi kata-kata lain yang berdasarkan pendirian mereka masing-masing. Aku jadi pusing dan bingung guru, apakah Guru Buddha memberikan pelajaran yang berbeda-beda sehingga menimbulkan hal seperti ini. Dan kalau aku mengingat apa yang dilakukan guru sehari-hari, aku lebih bingung lagi, yang mana yang guru ikuti?
"

Wiku Sadayana dengan santai menjawab : "Citramatra, Guru Buddha memberikan pelajaran kepada berbagai muridnya memang berbeda-beda sesuai dengan taraf kemampuan batin muridnya. Tetapi semuanya mempunyai tujuan yang sama yaitu kebebasan dari lingkaran tumimbal lahir. Biarkan saja mereka berdebat sampai puas.
Yang penting adalah engkau sendiri perlu memperhatikan dengan sepenuhnya apa yang kau pikir, kau katakan dan kau kerjakan. Inilah langkah awal menuju kebebasan.

Nah, mengenai aku mengikuti yang mana, aku sendiri tidak peduli. Aku hanya tahu kebebasan itu betul-betul bebas dari konsep 'aku yang benar'.

Kalau ada yang mengatakan aku ikut aliran ini atau itu bagiku itu tidak penting.

Air Kali Brantas dan Kali Porong kalau sudah sampai di laut rasanya akan asin juga dan menjadi satu tanpa bisa dibedakan asalnya dari aliran sungai yang mana.
"

Citramatra termangu-mangu mendengar jawaban Wiku Sadayana.

Melihat itu Wiku Sadayana berdiri sambil mengetuk kepala
Citramatra :
"Sudah jangan bingung! Ayo bantu aku mengambil air dari sumur. Adikmu Sunyacitra sedang sakit sehingga tidak bisa mengisi air.
Tanpa air kita tidak bisa mandi membersihkan badan
".