Senin, 16 November 2009

Kidung SUMANGGALAMATHA THERI

Terperangkap dalam cengkeraman pahit kemiskinan,
dihina, dipukul, direndahkan
ibunda Sumangala ini.
Bagai budak dia bekerja dari pagi sampai malam
Nasibnya jauh lebih buruk dibanding sapi jantan
yang diikat ke bajak tanpa henti.

Suaminya adalah seorang penganyam
keranjang-keranjang rotan, saringan dan kipas.
Dia menghina istrinya : karena si istri tidak bersedia
memenuhi nafsunya.

Si suami memukulinya sampai menyerah.
Dalam batin si istri yang tersiksa
Bergema suara engkit-engkit rotan yang berderit.
Rumahnya adalah penjara yang bau.
Sengatan makanan yang anyir
dan belanga serta panci yang kotor
menghunjam pikirannya yang berkelana.

Katanya pada diri sendiri :
"Aku tidak akan membiarkan diriku tercekik
Oleh pukulan atau bau atau ancaman.
Pasti ada jalan keluar
Dan aku pasti menemukannya."


Maka dia pun mencari Sang Guru
Yang welas asihNya meredakan rasa sakitnya,
Dan atas perintah beliau, dikenakannya jubah kain kafan
pada tubuhnya yang rapuh dan tua.

Pembebasan pun datang padanya
Dalam suatu kilatan pemikiran yang meyakinkan;
Melalui semua penderitaannya dia melihat
Penyebabnya, kemunculannya, kelenyapannya,
Maka dia mendendangkan Kidung pembebasan ini.

"Terbebas aku dari suami,
Terbebas dari alu dan lesung pula,
Terbebas dari bau rumah yang basi
Dan deraan suara
engkit- engkit- engkit- engkit
Tidak akan menyiksaku lagi.

Terbebas juga aku
Dari nafsu keinginan, nafsu jasmani dan keserakahan.
Aku tidak lagi menyimpan kekotoran batin
Yang dikembang-biakkan kelana samsara.

Alih-alih, bagaikan perahu dihembus angin sepoi
yang lembut
Aku berlayar pada Aliran Pembebasan.
Aku telah terbebas."


KIDUNG PARA THERI
Bahasa Inggris oleh : Usula P. Wejisuriya
Diterjemahkan oleh : Dra. Wena Cintiawati dan Dra. Lanny Anggawati