Rabu, 25 November 2009

Wiku Sadayana - MALU dan TAKUT

Cuaca di padepokan tempat Wiku Sadayana tinggal, sudah mulai berangsur gelap. Hujan rintik disertai kabut pun makin membuat pelita yang dipasang menerangi jalan dalam area padepokan tidak mampu memberikan penerangan yang cukup.

Di Sanggar Pamujan, suara tembang mantra dari para cantrik terdengar bagai dengung lebah, mengalun menembus gemersik batang bambu membuat suasana menjadi terasa tenteram dan hening. Pada saat itulah terdengar detak kaki kuda merencah tanah yang becek tergenang air hujan. Disertai seruan : "Hoooi", detak kaki kuda berhenti di ujung jalan masuk ke Padepokan. Serentak terdengar gonggongan anjing peliharaan yang berlarian menuju gerbang masuk. Citrabala menghentikan pembacaan mantra dan setelah bersujud, lalu merapihkan jubah dan mengencangkan ikat pinggangnya bangkit kemudian berjalan keluar sanggar Pamujan untuk melihat siapa yang datang malam malam begini.

Sambil berjalan, Citrabala berteriak menenangkan gonggongan anjing : "Belang, Hitam ayo diam jangan ribut". Perlahan-lahan suara salak anjing mereda, hanya terdengar geraman si Hitam yang masih curiga dengan tamu yang baru datang.
Di tengah perjalanan menuju gerbang, terdengar teguran : "Kakang Citrabala, ada tamu dari kota".
Ternyata yang berkata adalah Wirasaba, penduduk desa yang tinggal di kaki bukit yang sering datang dan membantu di padepokan. Tamu yang dikatakan dari kota itu kini melangkah maju menatap Citrabala sambil berkata : "Aku Saccawirya ingin bertemu dengan Wiku Sadayana, dan engkau Citrabala? Wah sudah dewasa dan kekar sekali, masih ingat dengan aku Citrabala?"
Setelah mengamati wajah tamunya, yang usianya diperkirakan sudah menjelang senja, dengan wajah bingung dan malu Citrabala menjawab : "Maaf kisanak, aku sudah lupa".
"Haha…ha," tawa Saccawirya menggema: "Pasti sudah tidak ingat lagi, waktu umurmu baru 5 tahun, aku sering menggendongmu, saat kakimu luka karena jatuh, coba perhatikan dibetismu ada bekas luka yang cukup dalam bukan?"

Tanpa sadar Citrabala meraba bekas luka di betisnya.
"Maaf, paman, aku betul betul tidak ingat, mari silahkan ke tempat menginap dulu, dan aku akan tunjukkan jalan ke pancuran untuk mandi. Dan kau Wirasaba, sudah selarut ini, daripada pulang lebih baik menginap sekalian disini, eh sudah dapat ijin dari istrimu untuk tidak pulang malam ini? Jangan jangan engkau akan disambut dengan palang pintu besok".

Dengan senyum lebar, Wirasaba menjawab: "Citrabala, tidak ada masalah kalau aku menginap disini, istriku yang menyuruhku mengantarkan tamu ini dan dia juga menyuruhku menginap disini".
"Kalau begitu engkau menginap di pondok ku saja, tahu kan jalan kesana? Dan setelah mandi, sebaiknya langsung ke sanggar Pamujan, untuk bertemu dengan Guru", ujar Citrabala.


"Terimakasih, dan engkau Citrabala, setelah mengantar ke tempat menginap Saccawirya, kembalilah ke sanggar Pamujan, biar aku yang menjemput tamu ini dan mengantarnya kesana".
"Baik, sampai ketemu di Sanggar Pamujan nanti".

Setelah mengantar tamu, Citrabala balik kembali ke Sanggar Pamujan. Ternyata pembacaan mantra sudah selesai. Tampak Wiku Sadayana sedang berbincang-bincang dengan para cantrik.

Ketika melihat Citrabala memasuki Sanggar Pamujan, Wiku Sadayana bertanya : "Siapa yang datang malam malam begini Citrabala?".
"Tamu itu bernama Saccawirya, guru, aku tidak ingat lagi siapa dia?"

Dengan gembira Wiku Sadayana berkata: "Oo Saccawirya, sudah lama sekali aku tidak bertemu. Di mana dia sekarang?"
"Sedang mandi. Seusai mandi akan kesini diantarkan oleh Wirasaba".

"Baiklah, kita tunggu dia disini, Citrawirya, siapkan tambahan 2 gelas minuman secang untuk tamu kita."

Catatan:
Secang ~ sejenis minuman yang terbuat dari sereh, kayumanis, cengkeh, jahe dan gula merah.


Tidak berapa lama, Wirasaba dan Saccawirya masuk ke Sanggar Pamujan. Setelah memberikan sembah kepada Wiku Sadayana, mereka duduk di tempat yang telah disediakan.

"Saccawirya, sudah lama sekali kita tidak bertemu. Tanpa kita sadari, kita semua sudah bertambah tua. Rambutmu dan rambutku sudah mulai beruban. Bagaimana kabar keluargamu, dan kemana saja selama ini?" tanya Wiku Sadayana sambil menatap ke wajah tamunya yang sudah mulai dihiasi guratan guratan usia.

"Kakang Wiku", jawab Saccawirya, "Kami semua sekarang sehat, kakang. Namun hampir saja menemui ajal ketika ditugaskan untuk menjadi juru catat di tanah seberang, saat ada pemberontakan disana. Untunglah aku sekeluarga diselamatkan oleh penduduk setempat yang sering meminta dibacakan lontar".

"Ayo diminum dulu wedang Secang-nya selagi masih panas," tukas Wiku Sadayana sambil dirinya juga menyeruput wedangnya. Lanjut Wiku Sadayana: "Syukurlah Anda sekeluarga selamat, karma baikmu melindungimu Saccawirya. Setelah kembali ke ibukota, anda ditugaskan di mana?"
"Aku masih menjadi juru tulis, dan sekarang ditugaskan sebagai juru catat pada bagian Adhyaksa, dan tugasku adalah membuat catatan perkara maupun keputusan yang diambil dalam persidangan", sahut Saccawirya.

"Tentunya makin baik kehidupanmu sekarang Saccawirya", kata Wiku Sadayana. "Nah anda datang kesini tiba tiba ada keperluan apakah Saccawirya?"

Sambil merangkapkan tangannya Saccawirya menjawab : "Yang pertama tentunya ingin menemui Kakang Wiku. Juga untuk memohon kesediaan Kakang Wiku beserta beberapa murid disini, untuk berkenan datang ke rumahku saat purnama penuh yang akan datang, karena aku sekeluarga ingin mengadakan acara selamatan 100 hari cucuku sekaligus pembacaan doa pemberkahan untuk rumahku yang di ibukota".

Dengan gembira Wiku Sadayana berkata : "Aku bisa datang ke rumah mu saat itu, Saccawirya, dan selamat atas kelahiran cucumu".

"Terima kasih Kakang Wiku", jawab Saccawirya. "Selain itu juga aku ingin mendengar nasihat nasihat Kakang atas masalah yang aku hadapi sehari-hari".

"Ada masalah apa Saccawirya? Bukankah kehidupanmu makin mapan?" tanya Wiku Sadayana.

"Bukan masalah itu Kakang, tapi aku prihatin dengan perilaku orang orang di Majapahit sekarang ini", jawab Saccawirya.

Dengan tenang Wiku Sadayana menatap Saccawirya, menunggunya melanjutkan pembicaraan.

"Dengan tugasku di bagaian Adhyaksa, mencatat berbagai perkara serta keputusan-keputusan yang telah ditetapkan, kini makin sering aku melihat perkara yang seharusnya dihukum berat, tetapi keputusan yang diberikan adalah sangat ringan. Mereka yang menjadi kaya dengan mencuri atau mengutip uang kerajaan, menjadi sangat kaya dan bisa lolos dengan mudah, meskipun ada dugaan penyuapan tetapi itu sulit dibuktikan, sedangkan Gusti Prabu selalu berdiam diri seperti banyak masalah berat lainnya yang beliau pikirkan. Karena itu makin lama makin banyak penyalah gunaan wewenang, penyelewengan pemakaian uang yang bukan haknya, dan ini meluas tidak saja di punggawa kerajaan, tetapi sudah sampai kepada para pedagang, pekerja bahkan guru yang seharusnya memberi teladan kepada anak anak.

"Kalau begini terus bagaimana kelanjutan kerajaan ini Kakang?" keluh Saccawirya.

Sambil mengurut-urut jenggotnya, Wiku Sadayana termenung memandang dlupak yang apinya berkelap kelip . Akhirnya berkata: "Saccawirya, memang sejak perang Paregreg (Perang Saudara) yang lalu, tatanan laku para pamong praja dan masyarakat sudah menjadi rusak. Jauh menurun dari ketertiban yang pernah digalang oleh mendiang Apatih Gajah Mada, dan Gusti Prabu Hayam Wuruk. Kini mereka sudah tidak takut lagi pada akibat dari perbuatan buruk. Mereka sudah lupa walaupun bisa lolos dari hukum kerajaan, bahwa hukum Karma tetap berlangsung. Dan sudah tidak memiliki rasa malu pada diri sendiri yang melakukan perbuatan yang salah.
Padahal rasa malu inilah yang mencegah kita melakukan perbuatan yang merendahkan martabat diri sendiri.
Mungkin seseorang tidak takut pada hukum kerajaan atau pada akibat perbuatannya: tetapi setiap orang pasti menginginkan putra putrinya untuk bangga kepada ayah –ibu nya, maka itu dikatakan rasa malu untuk melakukan perbuatan yang tercela mampu mencegah seseorang berbuat tidak pantas. Tetapi kalau memang rasa takut dan malu ini sudah tidak ada lagi, semua tatanan menjadi rusak.
"

"Terus bagaimana Kakang?", tanya Saccawirya.

"Saccawirya, yang penting anda berperilaku dengan pedoman pada rasa takut dan malu agar tidak melakukan perbuatan tercela, hidupmu akan tenteram dan tidurmu pun nyenyak. Aku tetap yakin cukup banyak orang yang ingin kerajaan ini kembali tenteram dan tertib, dan mereka ini sebetulnya membutuhkan pedoman untuk berperilaku baik, sedangkan teladan yang baik sangat sedikit. Maka itu mulai dari diri anda sendiri , Saccawirya, jadilah teladan yang baik bagi mereka. Masyarakat membutuhkan teladan yang baik dari pejabat dan punggawa kerajaan. Jika ada pejabat kerajaan yang berperilaku baik, dengan mudah dia akan memimpin rakyatnya".
"Mengenai kerajaan ini, aku tidak tahu Saccawirya, semua yang ada di dunia ini tidak kekal, selalu berubah. Mungkin menjadi makin buruk, tetapi juga mungkin menjadi makin baik. Sebuah kerajaan terdiri dari raja, menteri, panglima dan ponggawa kerajaan lain, serta yang paling banyak adalah rakyat. Jika semuanya menginginkan ketertiban dan ketentraman, dan mau memulainya dari diri sendiri, akan menjadi baik. Jika tidak peduli ya mungkin makin buruk. Hal ini tidak bisa kita yang mengaturnya. Biarlah kita lihat hari depan seperti apa.
Kini sudah sangat larut malam, kita semua perlu istirahat. Ayo kembali ke tempat masing masing,
" kata Wiku Sadayana, sambil bersiap siap untuk bangkit.

"Terima kasih Kakang Wiku, akan aku ingat baik-baik nasehatmu", sahut Saccawirya sambil bangkit dari duduknya.

Dhyanaloka, Nopember 2009