Senin, 23 November 2009

Wiku Sadayana, MBA

Sekembalinya Wiku Sadayana dari menimba ilmu dan memperdalam Buddha Dharma di negeri jiran, beliau menjadi sangat sibuk, memenuhi undangan ceramah, mengajar, bahkan menjadi ketua pembangunan vihara ini dan itu. Pada suatu ketika, karena terlalu letih, Wiku Sadayana jatuh sakit.

Setelah sembuh dari sakit, Wiku Sadayana berubah perilakunya. Dia ingin agar di belakang namanya ditambahkan gelar MBA.

Para wiku yang lain menjadi heran dan bertanya-tanya. Ada yang menduga Wiku Sadayana ingin melepas jubah dan menjadi eksekutif. Adapula yang mengira Wiku Sadayana akan membuka biro konsultasi manajemen dan forecasting yang kesemuanya tentu akan lebih afdol dengan gelar MBA.

Akhirnya pada suatu hari uposatha, beberapa wiku yang sudah tidak tahan lagi dengan perilaku "menyimpang" dari vinaya yang dilakukan oleh Wiku Sadayana, menanyakan dengan nada menuduh:

"Yang Mulia Wiku, setahu kami kunjungan wiku ke negeri jiran yang dibiayai oleh salah satu umat yang menjadi konglomerat, adalah bertujuan untuk mempelajari Tripitaka dan untuk memperdalam segala makna dan tafsir mengenai Buddha Dharma. Jadi darimanakah gelar MBA itu? Ataukah pada waktu belajar di negeri jiran, wiku sempat mengambil kursus kilat dan memperoleh gelar MBA?"

Mendengar pertanyaan yang bernada menuduh itu, Wiku Sadayana terkekeh-kekeh dan menjawab, "Saudara-saudaraku para wiku, aku tidak mendapat gelar MBA dari negeri jiran. Gelar itu aku sendiri yang menghendaki dipasang di belakang namaku, setelah aku sakit."

Sebelum para wiku sempat bertanya, Wiku Sadayana melanjutkan, "Sewaktu aku sakit, sesuai dengan ajaran Buddha, aku berusaha agar batinku tetap tenang. Tapi dengan kondisi badan yang lemah, aku kadang-kadang jatuh tertidur.
Suatu saat, ketika aku berusaha agar batinku tenang, aku merasa berada dalam suatu vihara yang amat megah dan besar, kulihat ada ratusan wiku berada di situ. Tiba-tiba kudengar namaku dipanggil dan diminta agar maju ke depan mimbar.
Saat itu juga aku mengerti bahwa yang berada di atas mimbar dengan panggung bunga seroja adalah Bodhisattva Maitreya. Beliau menatapku dan bertanya, 'Wiku Sadayana, setelah engkau mempelajari dan memperdalam Buddha Dharma di negeri jiran, engkau kembali ke Bumi Majapahit. Lalu apa yang engkau lakukan di Bumi Majapahit?’"


"O, Yang Maha Sempurna, sekembalinya dari negeri jiran, atas permintaan para sponsor, saya berusaha sekuat tenaga untuk membabarkan Buddha Dharma dengan berceramah, seminar, dan bahkan sempat menjadi ketua pembangunan beberapa vihara yang satu di antaranya akan menjadi pusat studi Buddha Dharma bagi para wiku dan pertapa di Majapahit."

Dengan tersenyum Bodhisattva Maitreya berkata: "Dan karena terlalu letih maka engkau jatuh sakit bukan?"

Kujawab, "Demi Buddha Dharma aku rela bekerja keras."

Bodhisattva Maitreya berkata: "Wiku Sadayana, pengorbananmu untuk pengembangan Buddha Dharma merupakan karma baik yang tak ternilai besarnya. Tetapi mengapa harus engkau yang memberikan ceramah, seminar, dan lain-lain? Bukankah masih ada wiku yang lain?"

Kujawab: "Memang demikian kehendak umat. Dan juga baru hamba sebagai wiku pertama yang telah mempelajari Buddha Dharma di pusat studi negeri jiran. Wiku yang lain di Majapahit tidak mendapat pengajaran dengan cara yang sistematis seperti di negeri jiran. Oleh karena itu aku berniat mendirikan pusat studi yang serupa di Majapahit."

Bodhisattva Maitreya : "O,kiranya itu sebabnya sehingga engkau demikian sibuk. Kalau begitu, menurut perasaanmu tidak ada wiku lain di Bumi Majapahit yang cukup mampu membabarkan Prajna Paramita yang engkau pelajari di negeri jiran?"

Aku menjawab : "Pada saat ini, demikianlah keadaannya."

Bodhisattva Maitreya : "Baiklah jika demikian, tetapi dapatkah Dharma yang sejati atau Kesunyataan diungkapkan dengan kata-kata?
Jika timbul pembedaan antara aku yang mengerti dan mereka yang tidak mengerti, dapatkah Kesunyataan yang tanpa noda akan muncul?
Jika Kesunyataan tidak muncul, bagaimana akan dipahami?
Jika Kesunyataan tidak dipahami, bagaimana Kesadaran Bodhi dapat muncul?
Jika Kesadaran Bodhi tidak muncul, maka tentunya noda akan muncul dan bila noda masih bermunculan, maka Kebebasan Sejati, masih belum tercapai.
"
Wiku Sadayana melanjutkan ceritanya :
Tiba-tiba aku merasa pusing, dan rasanya aku jatuh kebawah dan terbangun.

Setelah terbangun aku merasa malu atas sikapku selama ini, dan karena itu aku pasang tambahan MBA di belakang namaku, untuk mengingatkan bahwa aku harus berusaha lebih keras lagi karena aku M-asih B-elum A-rahat
."

Dhyanaloka, Desember 1992

(diketik ulang oleh Aryo Kurniawan Dharmasurya atas permintaan Dayananda Tatang Gowarman dengan bersumber dari Majalah Manggala edisi Waisak 2543 Mei-Juni 1999, pada Senin, 20 Juli 2009 di Bandung. Semoga semua makhluk hidup dapat merasakan manfaat baik secara langsung maupun tidak langsung).