Sabtu, 28 November 2009

BEBAN KARMA ~ Wiku Sadayana

Suatu ketika, wihara tempat tinggal Wiku Sadayana mendapat kunjungan Danaviriya. Sebagai upasaka yang saleh, Danaviriya sering berkunjung ke wihara-wihara untuk berdoa dan bermeditasi, selain berdiskusi Dharma dengan para wiku. Pada setiap kunjungan, biasanya Upasaka Danaviriya selalu membawa oleh-oleh bagi para wiku, selain memberikan dana bagi kebutuhan para anggota Sangha.

Dalam kehidupan sehari-hari Upasaka Danaviriya dikenal sebagai pedagang yang ulet dan tekun, sehingga menjadi kaya raya. Sawah ladang yang dimilikinya luas, begitu pula ternak peliharaannya beratus-ratus. Diapun memiliki berbagai kedai yang menjual bermacam macam barang. Dengan demikian banyak pula orang yang bekerja pada Upasaka Danaviriya.

Sebagai penengah dari 9 bersaudara, Danaviriya memilik 4 saudara laki-laki dan 4 saudari perempuan. Berkat kekayaan yang dimiliki Danaviriya, semua saudaranya dapat hidup dengan nyaman tanpa perlu bekerja keras. Setiap minggu mereka datang ke rumah Danaviriya untuk mengambil kebutuhan sehari-hari, dan kadang kadang meminta bantuan sedikit uang untuk keperluan kehidupan mereka. Kebahagiaan Danaviriya pun lengkap karena kedua orang tuanya masih hidup. Demikian pula kedua mertuanya. Suami-istri Danaviriya dapat melaksanakan bakti penghormatan dan merawat kepada orang tua mereka.

Namun kedatangan Danaviriya ke wihara kali ini tidak seperti biasanya yang selalu gembira. Kali ini ia tampak murung dan sedih.

Sebagai wiku yang arif, Wiku Sadayana diam saja, sampai suasana agak sepi,

Danaviriya mengeluh kepada Wiku Sadayana: "Oh Bhante, betapa berat karma yang saya pikul. Saya menghidupi ke 8 saudara saya yang lain dan ke 2 pasang orang tua kami. Namun tiada sedikitpun terimakasih yang mereka ucapkan. Pada saat ini, karena musim kering yang berkepanjangan, hasil panen gagal dan banyak ternak yang mati. Banyak pula pekerja yang sakit yang perlu diberi obat. Sedangkan saudara-saudaraku tidak ada yang mau membantu. Mereka bermalas-malasan tidak mau bekerja. Bahkan mereka tidak hanya meminta tetapi juga menuntut. Jika aku memberi sedikit, mereka mengadu kepada orang tuaku. Sehingga aku dipanggil untuk ditegur, dianggap sebagai saudara yang tidak mau membantu. Demikian berat rasanya beban karma yang kutanggung dalam kehidupan ini. Walaupun aku tahu bahwa ini merupakan bagian karmaku yang harus kubayar, namun rasanya sikap para saudaraku sangat keterlaluan. Aku sungguh-sungguh tidak beruntung."

Mendengar keluhan ini Wiku Sadayana termenung sejenak. Lalu beliau berkata :
"Jika anda mengerti bahwa dalam kehidupan ini anda diberi kesempatan untuk membayar karma buruk anda, itu sangat baik.
Namun memberi bantuan yang sifatnya memanjakan saudara-saudara anda, sehingga mereka bersenang-senang dengan uang anda tanpa perlu bekerja, bukanlah suatu perbuatan yang bijaksana. Adalah kewajiban anda pula untuk membimbing mereka untuk bertanggung jawab bagi kehidupan mereka dan keluarganya.
Jika mereka kelaparan, anda wajib memberinya makan. Jika kedinginan anda perlu memberinya pakaian dan perlindungan terhadap cuaca dingin. Namun pemberian
yang berlebihan sehingga mereka bisa bersenang-senang dan melupakan kewajibannya, bukanlah cara melunasi hutang karma yang bijaksana.
Sangat sulit mengubah kebiasaan orang yang tidak biasa bekerja agar mereka mau bekerja. Namun pada saat ini semua orang mengalami kesulitan. Maka merupakan saat yang tepat untuk membuat mereka mulai bekerja. Perlu tekad yang kuat agar anda dapat memaksa mereka untuk bekerja.
"

"Oh, terima kasih bhante. Saya gembira sekali mendapatkan penjelasan seperti ini. Namun bagaimana dengan kedua orang tua saya yang menegur saya karena tidak mau membantu mereka?"

"Mengenai kedua orang tua anda, coba pertimbangkan. Jika anda punya 2 orang anak saja, yang satu berkelimpahan dan kaya raya, sedangkan yang satu lagi karena tertipu menjadi jatuh miskin, sedangkan anda sebagai orang tua yang tidak bekerja lagi, tidak mempunyai harta untuk diberikan kepada anak anda yang miskin; menurut anda apa yang akan anda lakukan?"

"Saya akan meminta kepada anak yang kaya untuk meminjami uang kepada yang miskin agar dapat berusaha lagi"

"Nah, artinya sama saja dengan orang tua anda sekarang, yang meminta anda untuk membantu saudara-saudara anda yang sedang kesulitan. Memang demikianlah sifat orang tua, mereka mengasihi semua anak-anaknya. Bahkan seorang ibu yang sudah berusia 90 tahun, tetap mengkhawatirkan putranya yang masih belum pulang pada saat larut malam, padahal putranya sudah berusia 70 tahun."

"Bhante, saya mengerti saya sedang melunasi hutang karma saya. Namun rasanya beban ini berat sekali. Saya sangat tidak beruntung pada kehidupan ini"

"Upasaka, itu tergantung dari sisi mana anda memandang, coba pikirkan, seandainya anda yang seperti salah satu saudara anda, yang menggantungkan hidup anda kepada belas kasihan orang lain, dibicarakan oleh orang lain sebagai orang yang malas dan tidak bertanggung jawab, apakah anda lebih beruntung pada kondisi kehidupan seperti itu? Bukankah sekarang anda yang beruntung memiliki karma baik sehingga bisa membantu saudara-saudara anda?"

Setelah termangu-mangu sejenak, Danaviriya tersenyum dan berkata:
"Benar Bhante, aku sangat beruntung dalam kehidupan ini"

Dhyanaloka, Juli 98