Senin, 14 Desember 2009

MAURITIUS

Seperti saya jelaskan, catatan ini bukan secara kronologis.

Sebenarnya sebelum ke Afrika Selatan saya telah lebih dahulu mengunjungi Mauritius. Negara ini adalah sebuah pulau kecil yang hampir tidak nampak di peta. Letaknya di sebelah timur negara pulau Madagaskar. Luasnya sekitar dua kali lebih besar daripada Singapura, dan penduduknya sekitar 1,2 juta jiwa saja. Kebanyakan keturunan India, keturunan Eropa, keturunan Afrika dan keturunan Cina. Jadi sulit mencari penduduk aslinya. Pendek kata semua sudah merasa sebagai Orang Mauritius, dan bangga dengan kekayaan mereka sebagai bangsa multi rasial.
Mereka semua berbicara dalam bahasa Creol, yaitu campuran bahasa asli dengan bahasa Prancis. Aneh juga rasanya mendengar 'bonjour' diucapkan pagi-pagi oleh seorang yang jelas-jelas etnis India dan dijawab dengan 'ca va?' oleh seorang yang jelas-jelas etnis Cina!

Kunjungan pertama saya ke Mauritius melulu kerja. Untunglah dalam perjalanan pulang, pesawat dari Afrika Selatan tidak bisa langsung ke Singapura melainkan harus stop satu malam di Mauritius. Jadi saya punya kesempatan sejenak untuk menelusuri pulau ini secara santai. Cuma satu yang ingin saya kunjungi, yaitu mudah-mudahan ada sebuah vihara.

Harap-harap cemas saya tanyakan kepada bung Yousouf, yaitu sopir taksi langganan saya di pulau ini. Ternyata keturunan etnis India yang beragama Islam ini mengetahui bahwa ada sebuah 'boudhis temple'. Kami pun meluncur ke sana.

Sebuah bangunan bergaya Cina segera mengesankan sebuah kelenteng. Setelah melewati gerbang, saya masuk ke halaman yang bersih tertutup lantai semen. Di depan seperti layaknya tempat ibadah Cina, ada sebuah tempat dupa yang besar. Pintunya tidak terkunci, jadi saya langsung saja masuk ke altar utama. Namo Omitofo tertulis di mana-mana. Di altar utama, tiga Buddha (Bhaisajya Guru, Sakyamuni dan Amitabha) bersaput keemasan bertahta dengan agungnya. Saya pun bernamaskara.

Ternyata vihara itu dihuni oleh para wanita awam yang menjalani kehidupan seperti anagarini. Mungkin di Indonesia kita lebih mengenal dengan sebutan Cayci/Cayma. Ada empat orang yang saya temui, dan mereka menyambut ramah apalagi setelah mengatahui saya datang dari negeri yang jauh sekali.
Indonesia? Di mana itu? Ooo, di sebelah Singapura ......

Komunikasi berlangsung alot dengan bahasa gado-gado. Kalau sudah kepepet masing-masing bergegas menggunakan bahasa yang paling dikuasainya.
Mandarin, Inggris, Prancis, Hakka, Kongfu campur aduk semua.

Saya diajak naik ke lantai dua. Di sana ada altar lagi. Lalu ke lantai tiga. Bagian ini terbuka, namun sebuah buddharupa dari Thailand setinggi satu meter lebih bertahta anggun dalam sebuah bangunan berkaca yang sengaja dibuat. Patung ini hadiah dari Kementrian Luar Negeri Thailand dan Konsulat Jendral Thailand di Mauritius. Wah, aktif juga ya orang-orang Thai ini.

Para Cayci/cayma itu menjelaskan bahwa cukup lumayan umat yang datang membaca sutra pada hari-hari uposatha. Selain itu tentu seperti di Indonesia mereka juga meyelenggarakan upacara khusus untuk para arwah. Saya lihat di belakang ada yang sedang asyik membuat sesuatu dari kertas sembahyang untuk dibakar.

Begitulah. Di Mauritius, Agama Buddha menciut jadi agama segolongan orang Cina. Para penduduk etnis India di sana kebanyakan malah Muslim, atau Hindu, atau (sebagian kecil) Kristen. Untunglah di tengah himpitan masa, Agama Buddha itu masih bisa bertahan. Mungkin dengan bentuknya yang begitu, justru malah ia lebih ulet berkutet melawan waktu.

Dengan ini berakhir dulu catatan perjalanan saya. Sampai jumpa dalam catatan selanjutnya, kalau Anda belum bosan.

9 Oktober 2000