Minggu, 06 Desember 2009

Wiku Sadayana ~ Menyelami Dharma

Ditulis oleh Tatang Gowarman

Suatu ketika, Majapahit dilanda paceklik.

Mula-mula hujan tidak datang pada waktunya, sehingga terjadi kekeringan di mana-mana. Setelah itu hujan yang datang terlambat, datang sekaligus pada saat yang bersamaan, sehingga terjadilah banjir bandang yang menggagalkan tanaman pangan yang baru ditanam. Setelah dilanda banjir, kemudian musim hujantiba-tiba berhenti digantikan dengan panas terik yang menyengat menimbulkan bencana kekeringan lagi. Sehingga banyak terjadi kekurangan pangan di mana-mana.
Bagi kehidupan para wiku, kejadian ini sangat membuat mereka prihatin, masyarakat yang sudah mulai hidup dalam kekurangan, mulai saling menyalahkan, mereka bertengkar satu sama lain. Yang kuat memaksakan keinginannya. Pencurian dan perampokan mulai timbul di mana-mana.

Masyarakat yang makin miskin, juga mengimbas pada kehidupan para wiku. Jika mereka pindapatta, hanya sedikit yang diperoleh. Kadang kadang tidak mencukupi bagi kehidupan wiku yang sekian banyak, sehingga banyak di antarannya yang tidur dengan perut kosong.

Untunglah ketua wihara, Wiku Prajnaloka segera mencanangkan program baru. Jumlah diskusi Dharma dikurangi, menguncar mantra dan meditasi ataupun menyalin kitab suci hanya dilakukan pada malam hari. Dari pagi hingga siang para wiku diminta kesediaannya untuk bekerja di ladang, ada yang mencangkul, ada yang menimba air dari sumur untuk dialirkan ke sawah dan ladang, sehingga para wiku kecukupan pangan bahkan ada sisa yang terkumpul di lumbung serta mulai bisa membantu desa di sekitar wihara yang kekurangan pangan.

Namun, pengurangan waktu untuk mempelajari Dharma juga mendapat celaan dari beberapa murid senior. Mereka mengkritik bahwa tugas seorang wiku adalah untuk mencapai Pencerahan Batin, bukan mencangkul, mengumpulkan kotoran untuk pupuk ataupun menyirami sayuran. Diam-diam mereka mengumpulkan teman-teman yang sepaham, mereka beranggapan bahwa ketua vihara telah menyeleweng. Sekarang sibuk menimbun pangan, sebentar lagi akan menimbun harta. Dan itu semua diperoleh dengan memperlakukan para murid sebagai budak belian yang tidak diberi upah, hanya diberi makan sekedarnya. Mereka mulai malas bekerja, sering duduk-duduk di bawah pohon untuk mendiskusikan "dharma".

Beberapa murid Wiku Sadayana pun ada yang terpengaruh dan sering meninggalkan pekerjaannya di ladang untuk berkumpul dengan mereka.

Wiku Sadayana
sering mencari para muridnya dan memaksanya untuk kembali bekerja di ladang. Namun lama-kelamaan keadaan ini menjadi makin buruk. Yang bekerja rajin, merasa diperlakukan tidak adil, karena melihat temannya asyik mempelajari Dhamma atau sedang membaca paritta; sedangkan dia sendiri belepotan kotoran dan mandi keringat. Mereka pun mulai ikut bermalas-malasan atau bekerja asal-asalan.

Akhirnya beberapa wiku yang sudah tidak tahan lagi, mendatangi Wiku Sadayana yang dikenal giat bermeditasi atau bervipassana, mereka mengeluh bahwa kehidupan di wihara bukan seperti yang mereka cita-citakan dan lain sebagainya.

Wiku Sadayana meminta perkenan dari ketua wihara untuk mengumpulkan para murid di malam hari setelah acara uposattha untuk membicarakan program kerja dan program belajar bagi para wiku. Setelah semua berkumpul, Wiku Sadayana meminta para murid untuk menjelaskan mengapa mereka sekarang malas bekerja di ladang. Muncullah berbagai jawaban dari mereka seperti berikut ini.

"Mencangkul di ladang adalah tugas petani, tugas seorang wiku adalah mencapai Penerangan Sempurna bagi dirinya"

"Jika badan sudah lelah bekerja, sudah tidak ada tenaga lagi untuk bermeditasi atau membaca paritta"

"Bagaimana kita berlatih 'metta-bhavana' jika setiap kali mencangkul selalu ada kemungkinan mahluk hidup yang terbunuh"

"Vipassana memerlukan ketenangan jasmani, bagaimana kita bisa melakukannya jika harus membersihkan rumput liar"

Masih banyak lagi komentar lain, yang intinya kurang lebih sama, yaitu keberatan bekerja , karena tujuan mereka menjadi wiku adalah untuk mencapai Kebebasan Sejati.

Setelah mendengar semua keberatan mereka Wiku Sadayana mulai bertanya :
"Mengapa dilahirkan sebagai manusia dinyatakan oleh Sang Bhagava sebagai Berkah?"
Salah satu diantara wiku menjawab:
"Karena di alam Manusia ada kesedihan dan kegembiraan sehingga lebih mungkin untuk mendapatkan Kebijaksanaan yang Sempurna, dibandingkan dengan yang dilahirkan di Alam Deva atau Brahma yang hanya mengenal kebahagiaan; sedangkan yang dilahirkan dalam alam yang menyedihkan, mereka diliputi kesakitan dan kesedihan sehingga tidak mampu menerima Dharma yang diajarkan oleh Sang Buddha"

Wiku Sadayana :"Dengan apakah manusia melaksanakan Dharma?"
Jawab :
"Dengan Nama - Rupa, atau dengan Pancakkhandha"

Wiku Sadayana :"Bisakah manusia melaksanakan Dhamma tanpa Rupakkhandha atau tanpa badan jasmani?"
Jawab :
"Tidak bisa , Bhante, jika Pancakkhandha terurai, maka tidak bisa disebut sebagai manusia lagi".

Wiku Sadayana : "Jika Rupakkhandha juga penting untuk mencapai Kebebasan Sejati, bolehkan kita mensia-siakan atau menyiksa jasmani?"
Jawab :
"Sang Bhagava mengajarkan agar kita tidak memanjakan jasmani, tetapi juga tidak menyiksanya. Dengan jasmani yang sehatlah Sang Bhagava mencapai Nibbana"

Wiku Sadayana : "Apakah kita bisa mempertahankan kesehatan jasmani tanpa makan?"
Citrabala yang bertubuh besar menjawab :
"Tidak bisa Bhante, setiap mahluk hidup perlu makanan. Kalau aku terlambat makan atau kelaparan, kepalaku pusing dan ingin marah-marah."

Sambil tertawa terkekeh-kekeh Wiku Sadayana berkata : "Wah rupanya kalau Citrabala sedang uring-uringan berarti dia sedang kurang makan. Rupanya perilaku Citrabala ditentukan oleh kondisi perutnya," yang langsung disambut dengan derai tawa para cantrik.

Dengan wajah menahan malu Citrabala berkata: "Betul guru, aku berbicara apa adanya."

Dengan sabar Wiku Sadayana melanjutkan : "Memang betul yang dikatakan secara jujur oleh Citrabala. Jika kita lapar, kita lebih sulit mengendalikan batin kita. Nah,bagi kita para wiku, darimana kita mendapatkan makanan?"

Sunyacitra dengan tangkas menjawab : "Dari umat. Sudah seharusnyalah mereka memberikan makanan pada saat kita berkeliling mencari derma makanan. Namun akhir-akhir ini banyak umat yang mereka sendiri kekurangan pangan sehingga tidak mampu berdana makanan. Jika mereka memberi, jumlahnya juga jauh lebih sedikit daripada sebelumnya".

"Benar Sunyacitra, keadaan masyarakat sekarang ini sedang menderita kekurangan," lanjut Wiku Sadayana. "Kita semua bertujuan ingin mencapai Kebebasan Sejati. Untuk mencapai Kebebasan Sejati, kita masih memerlukan Jasmani, yang harus dipelihara melalui makanan. Karena para umat sedang dalam kesulitan, maka kita wajib memenuhi kebutuhan pangan kita sendiri dengan bertani".

Serempak para murid berkata : "Tapi Bhante, tanpa berdiskusi Dharma, tanpa membaca lontar dan menguncarkan mantra suci, tanpa meditasi dan vipassana, tentu sangat sukar bagi kita untuk memperoleh Pencerahan".

Dengan tersenyum lebar, Wiku Sadayana berkata: "Jika kalian mencangkul, lakukanlah dengan penuh perhatian, jangan biarkan pikiran kalian kemana-mana, ini juga merupakan latihan memusatkan pikiran. Bagi yang berkewajiban menimba air, kalian bisa melakukannya sambil mengulang-ulang mantra yang diajarkan guru-guru kalian. Sedangkan yang sedang mencabut rumput liar, ingatlah seperti mencabut rumput itu pula kalian harus mencabut pikiran yang disertai kebencian, keserakahan dan kebodohan".

Suasana dalam Sanggar Pamujan menjadi hening beberapa saat, ketika para cantrik yang hadir meresapi kata kata Wiku Sadayana.

"Kita berlatih melaksanakan ajaran Hyang Guru Buddha dalam kegiatan kita sehari-hari, untuk mencukupi kehidupan kita yang saat ini tidak bisa lagi ditopang dari pemberian para umat. Perbincangan atau diskusi mengenai ajaran Hyang Guru Buddha, kita lakukan setelah matahari terbenam di Sanggar Pamujan ini, sambil membicarakan juga pengalaman yang kalian alami ketika bekerja sambil melaksanakan ajaran Hyang Guru Buddha."

Para cantrik mengangguk tanda setuju, dan kemudian Wiku Sadayana melanjutkan : "Aku lihat mata air yang mengalir ke sungai melalui padepokan kita banyak sekali airnya, sedangkan desa sebelah belakang bukit ini kekurangan air, maka besok aku perlu bantuan beberapa orang untuk membuat saluran air agar bisa mencapai desa di belakang bukit ini sehingga mereka dapat mengairi sawahnya, ini adalah praktek Welas Asih dalam bentuk nyata.
Sekarang bukan waktunya mempelajari teori Dharma, tetapi kita perlu melaksanakan Dharma.
Agar adil, mulai besok, yang tidak bekerja tidak mendapat jatah makan siang. Sekarang kalian bubar untuk beristirahat.
"


Diedit ulang, Dhyanaloka Desember 2009